PAIJO duduk termenung di sebuah warung padang tempat biasanya ia mangkal, ingatannya kembali ke kampung halamannya, tempat bapak & emaknya membesarkannya, dan tempat ia bermain bersenda gurau dengan adik-adik kecilnya.
Lima tahun sudah ia tak menginjakkan kakinya di sana. ia hanya rutin saja mengirimi bapak & emaknya uang kebutuhan hidup keluarganya, juga untuk adik-adiknya bersekolah. Ia juga hanya mengetahui kabar keluarganya lewat telepon. Yang jelas bapak & emaknya sangat bangga kepada Paijo yang bisa membantu ekonomi keluarganya dan menaikkan derajat keluarga turut membantu menyekolahkan anak-anaknya sampai sarjana.
Paijo hanya bisa menghela nafas ... jauh dilubuk hatinya, sebenarnya ia sangat sedih karena orang tuanya tak tahu siapa sebenarnya dirinya dan apa bagaimana keadaaan batinnya di Jakarta saat ini. Orang tuanya hanya tahu Paijo bekerja sebagai orang kantoran, itu saja. padahal ...sejak kepindahannya ke Jakarta, Paijo tak pernah sembahyang di rumah maupun di kantor ia sibuk dengan urusan profesinya, dan hiruk pikuknya kehidupan metropolitan dan akhirnya ia menikmatinya, menjadi pekerja profesional di kawasan Jakarta Paijo hanya bisa menghela napasnya, seandainya orang tuanya tahu yang sebenarnya ... betapa hati mereka akan terpukul .....samar samar senja mulai temaram, adzan maghrib berkumandang, Paijo semakin sedih mendengar panggilan itu. lama rasanya wajahnya tak lagi basah oleh air wudhu ... dan kakinya mungkin sudah lupa bagaimana sejuknya lantai mushola. Nun jauh di lubuk hatinya, Paijo hanya bisa bergumam ... mungkin aku mulia di mata orang tuaku ..tapi .. aku begitu hina di hadapanMu ya Allah ...Aku akan kembali menjenguk Paijo-ku yang sesungguhnya.
***
Tulisan-nya masih morat-marit, dan mungkin jg analoginya ada yg nggak pas, tapi mudah2an bermanfaat.
Lima tahun sudah ia tak menginjakkan kakinya di sana. ia hanya rutin saja mengirimi bapak & emaknya uang kebutuhan hidup keluarganya, juga untuk adik-adiknya bersekolah. Ia juga hanya mengetahui kabar keluarganya lewat telepon. Yang jelas bapak & emaknya sangat bangga kepada Paijo yang bisa membantu ekonomi keluarganya dan menaikkan derajat keluarga turut membantu menyekolahkan anak-anaknya sampai sarjana.
Paijo hanya bisa menghela nafas ... jauh dilubuk hatinya, sebenarnya ia sangat sedih karena orang tuanya tak tahu siapa sebenarnya dirinya dan apa bagaimana keadaaan batinnya di Jakarta saat ini. Orang tuanya hanya tahu Paijo bekerja sebagai orang kantoran, itu saja. padahal ...sejak kepindahannya ke Jakarta, Paijo tak pernah sembahyang di rumah maupun di kantor ia sibuk dengan urusan profesinya, dan hiruk pikuknya kehidupan metropolitan dan akhirnya ia menikmatinya, menjadi pekerja profesional di kawasan Jakarta Paijo hanya bisa menghela napasnya, seandainya orang tuanya tahu yang sebenarnya ... betapa hati mereka akan terpukul .....samar samar senja mulai temaram, adzan maghrib berkumandang, Paijo semakin sedih mendengar panggilan itu. lama rasanya wajahnya tak lagi basah oleh air wudhu ... dan kakinya mungkin sudah lupa bagaimana sejuknya lantai mushola. Nun jauh di lubuk hatinya, Paijo hanya bisa bergumam ... mungkin aku mulia di mata orang tuaku ..tapi .. aku begitu hina di hadapanMu ya Allah ...Aku akan kembali menjenguk Paijo-ku yang sesungguhnya.
***
Tulisan-nya masih morat-marit, dan mungkin jg analoginya ada yg nggak pas, tapi mudah2an bermanfaat.
Learning point :
kita mungkin juga adalah seorang Paijo .. bisa jadi orang mengagumi kita karena kepandaian otak kita, barangkali orang menaruh hormat dan segan karena kedudukan kita, mungkin juga orang menganggap tinggi ilmu kita, hingga menyandangkan gelar ilmuwan kepada kita ... tapi cobalah bercermin kepada diri nurani sendiri .. bisa jadikita tinggi, ulia, terhormat di hadapan orang lain, tapi dihadapan Al-Khaliq .. mungkin kita adalah orang yang begitu hina ...
saking banyaknya maksiat kita .. karena seringnya kita melupakan Allah dalam kehidupan kita ...kalau kita tinggi di hadapan manusia, tapi rendah di hadapan Al-Khaliq ..
saking banyaknya maksiat kita .. karena seringnya kita melupakan Allah dalam kehidupan kita ...kalau kita tinggi di hadapan manusia, tapi rendah di hadapan Al-Khaliq ..
lalu apa manfaatnya ?
bukankah kita hanya akan kembali kepada Al-Khaliq ?
apakah manusia bisa memberikan kita manfaat dan mudharat ?
nah ... mari merenung sejenak ..
tinggalkan mahkota kesombongan dan kemuliaan kita di depan
makhluk ..
bersimpuhlah mohon ampunan di sisi Allah ...
dan bersyukurlah Allah masih menutupi aib-aib kita ...
dan jika engkau telah selesai dari satu urusan, maka kerjakanlah urusan yang lain jika urusan rutinitas keseharian kita telah membuat hati kita keras, maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain, yaitu urusan akhirat kita ...
semoga, kita lebih baik dari persangkaan orang kepada kita
dan tidak lebih buruk dari apa yang mereka ketahui tentang
keburukan kita, satu lagi … sanggupkah kita lepas dari intaian musibah baik di laut, udara maupun darat ?
tidak ada waktu & alasan kita untuk menunda.
semoga Allah senantiasa menunjuki kita semua sehingga tetap
istiqomah di jalan kebenaran, khususnya bagi yg nulis e-mail ini. amiin.
Penulis : mas-ghenk (dari milis koncokantor)
Komentar (Moko) :
Ya, aku setuju dengan panjenengan Oom Sugeng. Terima kasih mengingatkan:).
Komentarku kali ini adalah begini, "Dalam tataran kemanusiaan, cara pandang kita terhadap orang lain adalah representasi dari keinginan kita dipandang oleh orang lain". Konkretnya sederhana, kalau kita memandang orang lain hanya dari penampilan atau atribut fisiknya, artinya kita ingin orang lain memandang hanya penampilan atau atribut fisik kita. Tidak perlu jauh mencari cntoh, aku sendiri tidak pernah menakjubkan diri pada jabatan seseorang, harta
seseorang atau baju seseorang, bahkan kepandaian seseorang pada satu hal. Karena aku tidak mau orang lain menakjubiku pada hal2 tersebut. Itu semua hanya semu kan:) Aku lebih memilih mengenali jati diri seseorang dari apa yang "dipancarkan matanya", karena mata adalah organ tubuh terjujur nomor 2 sesudah hati....
Peace...(gaya rocker:p) hihihihihhi
semoga Allah senantiasa menunjuki kita semua sehingga tetap
istiqomah di jalan kebenaran, khususnya bagi yg nulis e-mail ini. amiin.
Penulis : mas-ghenk (dari milis koncokantor)
Komentar (Moko) :
Ya, aku setuju dengan panjenengan Oom Sugeng. Terima kasih mengingatkan:).
Komentarku kali ini adalah begini, "Dalam tataran kemanusiaan, cara pandang kita terhadap orang lain adalah representasi dari keinginan kita dipandang oleh orang lain". Konkretnya sederhana, kalau kita memandang orang lain hanya dari penampilan atau atribut fisiknya, artinya kita ingin orang lain memandang hanya penampilan atau atribut fisik kita. Tidak perlu jauh mencari cntoh, aku sendiri tidak pernah menakjubkan diri pada jabatan seseorang, harta
seseorang atau baju seseorang, bahkan kepandaian seseorang pada satu hal. Karena aku tidak mau orang lain menakjubiku pada hal2 tersebut. Itu semua hanya semu kan:) Aku lebih memilih mengenali jati diri seseorang dari apa yang "dipancarkan matanya", karena mata adalah organ tubuh terjujur nomor 2 sesudah hati....
Peace...(gaya rocker:p) hihihihihhi