Kamis, 29 Mei 2008

Mari Menjenguk Paijo

PAIJO duduk termenung di sebuah warung padang tempat biasanya ia mangkal, ingatannya kembali ke kampung halamannya, tempat bapak & emaknya membesarkannya, dan tempat ia bermain bersenda gurau dengan adik-adik kecilnya.

Lima tahun sudah ia tak menginjakkan kakinya di sana. ia hanya rutin saja mengirimi bapak & emaknya uang kebutuhan hidup keluarganya, juga untuk adik-adiknya bersekolah. Ia juga hanya mengetahui kabar keluarganya lewat telepon. Yang jelas bapak & emaknya sangat bangga kepada Paijo yang bisa membantu ekonomi keluarganya dan menaikkan derajat keluarga turut membantu menyekolahkan anak-anaknya sampai sarjana.

Paijo hanya bisa menghela nafas ... jauh dilubuk hatinya, sebenarnya ia sangat sedih karena orang tuanya tak tahu siapa sebenarnya dirinya dan apa bagaimana keadaaan batinnya di Jakarta saat ini. Orang tuanya hanya tahu Paijo bekerja sebagai orang kantoran, itu saja. padahal ...sejak kepindahannya ke Jakarta, Paijo tak pernah sembahyang di rumah maupun di kantor ia sibuk dengan urusan profesinya, dan hiruk pikuknya kehidupan metropolitan dan akhirnya ia menikmatinya, menjadi pekerja profesional di kawasan Jakarta Paijo hanya bisa menghela napasnya, seandainya orang tuanya tahu yang sebenarnya ... betapa hati mereka akan terpukul .....samar samar senja mulai temaram, adzan maghrib berkumandang, Paijo semakin sedih mendengar panggilan itu. lama rasanya wajahnya tak lagi basah oleh air wudhu ... dan kakinya mungkin sudah lupa bagaimana sejuknya lantai mushola. Nun jauh di lubuk hatinya, Paijo hanya bisa bergumam ... mungkin aku mulia di mata orang tuaku ..tapi .. aku begitu hina di hadapanMu ya Allah ...Aku akan kembali menjenguk Paijo-ku yang sesungguhnya.
***

Tulisan-nya masih morat-marit, dan mungkin jg analoginya ada yg nggak pas, tapi mudah2an bermanfaat.
Learning point :
kita mungkin juga adalah seorang Paijo .. bisa jadi orang mengagumi kita karena kepandaian otak kita, barangkali orang menaruh hormat dan segan karena kedudukan kita, mungkin juga orang menganggap tinggi ilmu kita, hingga menyandangkan gelar ilmuwan kepada kita ... tapi cobalah bercermin kepada diri nurani sendiri .. bisa jadikita tinggi, ulia, terhormat di hadapan orang lain, tapi dihadapan Al-Khaliq .. mungkin kita adalah orang yang begitu hina ...
saking banyaknya maksiat kita .. karena seringnya kita melupakan Allah dalam kehidupan kita ...kalau kita tinggi di hadapan manusia, tapi rendah di hadapan Al-Khaliq ..

lalu apa manfaatnya ?
bukankah kita hanya akan kembali kepada Al-Khaliq ?
apakah manusia bisa memberikan kita manfaat dan mudharat ?
nah ... mari merenung sejenak ..
tinggalkan mahkota kesombongan dan kemuliaan kita di depan
makhluk ..
bersimpuhlah mohon ampunan di sisi Allah ...
dan bersyukurlah Allah masih menutupi aib-aib kita ...

dan jika engkau telah selesai dari satu urusan, maka kerjakanlah urusan yang lain jika urusan rutinitas keseharian kita telah membuat hati kita keras, maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain, yaitu urusan akhirat kita ...

semoga, kita lebih baik dari persangkaan orang kepada kita
dan tidak lebih buruk dari apa yang mereka ketahui tentang
keburukan kita, satu lagi … sanggupkah kita lepas dari intaian musibah baik di laut, udara maupun darat ?
tidak ada waktu & alasan kita untuk menunda.
semoga Allah senantiasa menunjuki kita semua sehingga tetap
istiqomah di jalan kebenaran, khususnya bagi yg nulis e-mail ini. amiin.

Penulis : mas-ghenk (dari milis koncokantor)

Komentar (Moko) :
Ya, aku setuju dengan panjenengan Oom Sugeng. Terima kasih mengingatkan:).
Komentarku kali ini adalah begini, "Dalam tataran kemanusiaan, cara pandang kita terhadap orang lain adalah representasi dari keinginan kita dipandang oleh orang lain". Konkretnya sederhana, kalau kita memandang orang lain hanya dari penampilan atau atribut fisiknya, artinya kita ingin orang lain memandang hanya penampilan atau atribut fisik kita. Tidak perlu jauh mencari cntoh, aku sendiri tidak pernah menakjubkan diri pada jabatan seseorang, harta
seseorang atau baju seseorang, bahkan kepandaian seseorang pada satu hal. Karena aku tidak mau orang lain menakjubiku pada hal2 tersebut. Itu semua hanya semu kan:) Aku lebih memilih mengenali jati diri seseorang dari apa yang "dipancarkan matanya", karena mata adalah organ tubuh terjujur nomor 2 sesudah hati....
Peace...(gaya rocker:p) hihihihihhi

Perempuan

Dia diambil dari tulang rusuk lelaki. Jika Tuhan mempersatukan dua orang yang berlawanan sifatnya, maka itu akan menjadi saling melengkapi. Dialah penolongmu yang sepadan, bukan '*sparing partner*' yang sepadan.

Ketika pertandingan dimulai, dia tidak berhadapan denganmu untuk melawanmu. Tetapi dia akan berada bersamamu untuk berjaga-jaga di belakang saat engkau berada di depan atau lengah. Dialah yang akan menutupi kekuranganmu.

Dia ada untuk melengkapi yang tak ada dalam laki-laki, sperti: perasaan, emosi, kelemahlembutan, keluwesan, keindahan, kecantikan, rahim untuk melahirkan, mengurusi hal-hal sepele. Sehingga ketika laki-laki tidak mengerti hal-hal itu, dialah yang akan menyelesaikan bagiannya. Sehingga tanpa kau sadari ketika kau menjalankan sisa hidupmu... kau menjadi lebih kuat karena kehadirannya di sisimu.

Jika ada makhluk yang sangat bertolak belakang, kontras dengan lelaki, itulah perempuan. Jika ada makhluk yang sanggup menaklukkan hati hanya dengan sebuah senyuman, itulah perempuan. Ia tidak butuh argumentasi hebat dari seorang laki-laki. Tetapi ia butuh jaminan rasa aman darinya karena ia ada untuk dilindungi. Tidak hanya secara fisik tetapi juga emosi.

Ia tidak tertarik kepada fakta-fakta yang akurat, bahasa yang teliti dan logis yang bisa disampaikan secara detail dari seorang laki-laki, tetapi yang ia butuhkan adalah perhatiannya, kata-kata yang lembut, ungkapan-ungkapan sayang yang sepele. Namun baginya sangat berarti...membuatnya aman di sisimu.

Batu yang keras dapat terkikis habis oleh air yang luwes, sifat laki-laki yang keras ternetralisir oleh kelembutan perempuan. Rumput yang lembut tidak mudah tumbang oleh badai dibandingkan dengan pohon yang besar dan rindang. Seperti juga di dalam kelembutannya di situlah terletak kekuatan dan ketahanan yang membuatnya bisa bertahan dalam situasi apapun. Ia lembut bukan untuk diinjak, rumput yang lembut akan dinaungi oleh pohon yang kokoh dan rindang.

Jika lelaki berpikir tentang perasaan wanita, itu sepersekian dari hidupnya. Tetapi jika perempuan berpikir tentang perasaan lelaki, itu akan menyita seluruh hidupnya. Karena perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, karena perempuan adalah bagian dari laki-laki. Apa yang menjadi bagian dari hidupnya, akan menjadi bagian dari hidupmu. Keluarganya akan menjadi keluarga barumu, keluargamu pun akan menjadi keluarganya juga. Sekalipun ia jauh dari keluarganya, namun ikatan emosi kepada keluarganya tetap ada karena ia lahir dan dibesarkan di sana. Karena mereka, ia menjadi seperti sekarang ini.

Perasaannya terhadap keluarganya, akan menjadi bagian dari perasaanmu juga. Karena kau dan dia adalah satu. Dia adalah dirimu yang tak ada sebelumnya. Ketika pertandingan dimulai, pastikan dia ada di bagian lapangan yang sama denganmu.

*****

*Perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki*

*Dekat dengan lengan untuk dilindungi*

*Dekat dengan hati untuk dicintai*

Senin, 26 Mei 2008

Mandikan aku, Bunda

Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas : meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ''Why not the best,'' katanya selalu, mengutip kata-kata seorang mantan presiden Amerika.

Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran. Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ''selevel'' yaitu sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suaminya meraih gelar PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ''alif'' dan huruf terakhir ''ya'', jadilah nama yang enak didengar, Alifya. Saya takberani mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir.

Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dandari satu negara ke negara lain.

Setulusnya saya pernah bertanya, ''Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? ''

Dengan sigap Rani menjawab, ''Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!''

Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadwal Alif lewattelepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak.

''Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.'' Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya. Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertiananaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini ''memahami'' orang tuanya. Buktinya, kataRani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekalingambek. Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ''malaikat kecilku''. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.

Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter.

''Alif ingin Bunda mandikan,'' ujarnya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan.

''Bunda, mandikan aku!'' kian lama suara Alif penuh tekanan.

Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter.

''Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.''

Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah swt sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku.

''Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,'' ucapnya lirih, di tengah jamaah yangsunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ''Ini sudahtakdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?'' Saya diam saja. Rasanya Rani memang takperlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. ''Ini konsekuensi sebuah pilihan,'' lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.

Tiba-tiba Rani berlutut. ''Aku ibunyaaa!'' serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak. ''Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..'' Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.

Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong.Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat. Sering kali orang sibuk 'di luaran', asyik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang-orang di dekatnya yang disayanginya. Akan masih ada waktu 'nanti' buat mereka jadi abaikan saja dulu.

Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada. Pelajaran yang sangat menyedihkan. Semoga yang membacanya bisa mengambil makna yang terkandung dalam kisah ini.

Catch the chance, keep and manage it well

Catatan:
Sahabatku tercinta…
Saya membaca artikel di atas pada sebuah milis (saya hanya melakukan edit minimal), mohon maaf tidak tahu siapa penulisnya, siapapun penulisnya, semoga Allah memberi karunia padanya, karena saya yakin, tulisan ini pasti telah banyak menyentuh hati pembacanya.

Salam sayang

Harga Sebuah Kasih Sayang

Gaji Papa Berapa?

Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah
perusahaan swasta terkemuka di
Jakarta , tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak
seperti biasanya, Sarah,
putra pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD
membukakan pintu untuknya.
Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

"Kok, belum tidur ?" sapa Andrew sambil mencium
anaknya.

Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan
baru terjaga ketika
ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga,
Sarah menjawab, "Aku
nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih
gaji Papa ?"

"Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang
lagi, ya ?"

"Ah, enggak. Pengen tahu aja" ucap Sarah singkat.

"Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa
bekerja sekitar 10 jam dan
dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung
22 hari kerja. Sabtu
dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur.
Jadi, gaji Papa dalam satu
bulan berapa, hayo ?"

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja
belajar sementara
Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika
Andrew beranjak
menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari
mengikutinya. "Kalo satu
hari Papa dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti
satu jam Papa digaji
Rp.40.000,- dong" katanya.

"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur"
perintah Andrew

Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan
Papanya berganti pakaian,
Sarah kembali bertanya, "Papa, aku boleh pinjam uang
Rp. 5.000,- enggak ?"

"Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta
uang malam-malam begini? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah".

"Tapi Papa..."

Kesabaran Andrew pun habis. "Papa bilang tidur !"
hardiknya mengejutkan Sarah. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun
menengok Sarah di
kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur.
Sarah didapati sedang
terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,-
di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu,
Andrew berkata,
"Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat
apa sih minta uang
malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan
bisa. Jangankan Rp.5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih" jawab Andrew

"Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti
aku kembalikan kalau
sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu
ini".

"lya, iya, tapi buat apa ?" tanya Andrew lembut.

"Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main
ular tangga. Tiga
puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa
itu sangat berharga.
Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku,
hanya ada Rp. 15.000,-
tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp.40.000,- maka setengah jam
aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku
kurang Rp. 5.000,-
makanya aku mau pinjam dari Papa" kata Sarah polos.

Andrew pun terdiam. ia terdiam kehilangan kata-kata.
Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan
haru. Dia baru
menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan
selama ini, tidak cukup
untuk "membeli" kebahagiaan anaknya.