Selasa, 21 Oktober 2008

Keping Masa Lalu

"Di antara kebimbangan status antara persahabatan yang kau tawarkan dengan hasrat untuk sering berdua denganmu juga rasa takut kelak tak bisa membahagiakanmu, Mawar hadir mengetuk hati. Dengan situasi seperti kamu saat itu, dia lebih terbuka, mau menemani naik gunung bersama teman-teman. Aku merasa lebih berarti. Sejak itu dilema antara kamu dan Mawar di satu sisi. Kamu yang kuharap tapi tak ada kepastian. Mawar begitu terbuka, apa adanya. Dengan latar belakang seperti kamu yang beda cuma kedua ortu masih ada. Sekedar ilustrasi siapa Mawar, supaya kamu tahu. Aku laki-laki normal, saat itu Mawar kehadiranya lebih realistis, daripada dirimu seperti angan-angan yang tak ada ujung pangkalnya, walau dengan berat hati. Benar katamu, selama ini kita hanya diam, now tetaplah menjadi bintang di langit." 03/09/2005 - 16.53.30 wib

Aku tak sedang membicarakan masa lalu, toh sudah berlalu. Aku tak ingin menyalahkan siapa-siapa. Aku belajar memaafkan semuanya, pun memaafkan ketidaktahuanku. Aku tahu, aku tak berhak menghakimi siapa-siapa.

Pelan tapi pasti, tabir yang menyelimuti kepedihan masa lalu itu terkuak, perlahan-lahan. Kegelapan yang mataku tak mampu melihat apa pun kecuali sesuatu yang serba tak pasti dan tak mampu kumengerti.

Sebuah catatan yang kutemukan saat membersihkan kamar, secarik kertas yang mampu memaksa anganku mengingat semua yang sudah berlalu, yang sudah coba aku lupakan.

Pedihnya dikhianati, dicampakkan, dibuang. Bukan pilihan. Aku sama sekali tak siap. Aku sama sekali tak menyangka, tak mengira. Berpikir pun tak pernah.

Cinta, kadang bisa sangat melukai. Harusnya sejak awal aku mengerti. Harusnya tak kuijinkan cinta itu hadir di hati. Bila ternyata hanya duri yang kau beri.

Sumber : Curhat seorang teman, tetap sabar dan tegar ya!