Oh Bunda
ada dan tiada
dirimu kan selalu ada
di dalam hatiku
”Bunda”
Melly Goeslaw
Saat itu, aku masih terlalu kecil, untuk memaknai arti sebuah ’kehilangan’. Di usianya yang relatif masih muda, ibu menderita suatu penyakit. Waktu itu aku tidak begitu tahu penyakit ibu, ada yang bilang ibu sakit kanker. Yang pasti, ibu sudah cukup lama dirawat di rumah sakit di kota Madiun. Lalu pindah ke Bethesda dan Sarjito. Dua rumah sakit terakhir ini terletak di kota Jogjakarta. Masih segar dalam ingatanku, ketika dirawat di Jogja, hampir setiap akhir pekan kami menengok ibu ke Jogja. Namanya juga anak kecil, waktu itu kami gembira sekali. Yang tersimpan dalam ingatan masa kecilku, pergi ke Jogja sama artinya dengan jalan-jalan ke Candi Borobudur dan Prambanan, bertemu buah anggur dan kelengkeng (yang saat itu masih merupakan buah yang asing bagiku, tapi aku sangat menyukainya), menaruh sesuatu di kulkas –yang ada di rumah sakit- yang hampir tiap saat kami buka, untuk mengetahui apakah benda yang kami taruh sudah menjadi dingin atau belum (saat itu kulkas masih merupakan benda baru bagi kami, sebuah lemari ajaib yang bisa mendinginkan makanan, bahkan mengubah air menjadi es, hm... menarik bukan?) dan hal-hal indah lainnya di mata seorang anak berusia 7 tahun.
Selepas dirawat di Jogja, ibu pulang dan menjalani perawatan rumah. Baru beberapa tahun kemudian aku paham, ternyata kepulangan ibu ke rumah adalah karena pihak rumah sakit sudah angkat tangan dengan kondisi ibu. Saat itu ibu meminta pulang ke rumah dan ingin dekat dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil yang kesemuanya berjumlah lima orang. Saat itu kakak tertua kelas 5 SD dan adikku yang terkecil masih TK. Malam itu seperti biasa, setelah makan malam aku ikut (baca : ikut-ikutan) menyiapkan obat untuk ibu. Saat itu bapak sedang pergi ke Cianjur karena ada saudara yang bilang di Cianjur ada obat tradisional untuk penyakit ibu. Segera bapak pergi ke sana demi kesembuhan ibu.
Malam itu kulihat ibu lebih segar dari biasanya. Beliau tampak cermat mengecek obat yang harus diminum, karena obat yang diminum malam hari berbeda dengan obat yang diminum pagi atau siang hari. Setelah minum obat, ibu bercengkerama dengan kami sebentar, seperti biasa ibu selalu menanyakan apakah kami sudah makan atau belum, apakah kami sudah mengerjakan pr atau belum.
Lalu kami pun masuk ke kamar masing-masing dan bersiap tidur. Baru saja akan memejamkan mata, terdengar suara takbir dari kamar ibu, bercampur dengan jerit tangis saudara-saudara yang malam itu menjaga ibu. Kami, anak-anak segera masuk ke kamar ibu. Ternyata, ibu sudah pergi. Ibu meninggal di tempat tidur, dikelilingi kami anak-anaknya. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.
Aku menangis, tak bersuara. Dadaku terasa begitu sesak. Kami waktu itu masih sangat kecil. Saling berpandangan, semua menangis. Ibu telah meninggal. Ya, ibu telah pergi untuk selama-lamanya. Meninggalkan kami, anak-anaknya yang saat itu masih sangat kecil-kecil. Itulah saat yang paling menyedihkan dalam hidupku. Aku sama sekali tak siap kehilangan ibu. Aku sama sekali tak pernah menyangka ibu akan pergi secepat itu. Aku tahu ibu memang sudah lama sakit. Berkali-kali keluar masuk rumah sakit dan harus rutin minum obat. Tapi dalam pikiran kecilku saat itu, ibu pasti akan sembuh, seperti ibunya teman-temanku yang lain. Yang sakit dan sembuh. Tapi kenapa ibu meninggal? Aku tak mengerti. Aku hanya sedih dan begitu sedih.
Orang-orang dewasa di sekelilingku saat itu berkata, ”Sudah, jangan menangis, perjalanan ibu nanti akan berat kalau anak-anak masih menangis.” Akhirnya aku berusaha untuk tidak menangis meskipun sebenarnya saat itu aku masih ingin menangis. Tapi aku berusaha sebisa mungkin menahan tangis, aku hanya tidak ingin perjalanan ibu menjadi berat, seperti yang dikatakan orang dewasa saat itu. Mereka juga berkata bahwa ibu meninggal karena Gusti Allah sayang sama ibu, daripada kasihan melihat ibu sakit terus, maka Allah ingin mengangkat penyakit ibu. Meskipun itu berarti aku harus kehilangan ibu. Meski itu berarti ibu harus berpisah dengan kami anak-anaknya. Aku berusaha mengikhlaskan kepergian ibu. Daripada melihat ibu sakit terus, dengan kepergiannya itu, berarti ibu tak perlu merasakan sakit lebih lama lagi.
Tanpa aku sadari, kehilangan itu meninggalkan sebuah noktah kecil di hati. Aku merindukan kehadiran ibu. Hampir setiap malam aku menangis diam-diam karena rasa kehilangan yang sangat. Kesedihan yang luar biasa mendera. Ternyata, aku masih belum bisa mengikhlaskan kepergian ibu sepenuhnya. Hatiku masih belum bisa menerima bahwa kini aku tak bisa lagi bertemu dengan ibu. Bahwa aku sangat mencintai ibu dan tak ingin berpisah dengan ibu selamanya. Aku masih ingin merasakan hangatnya pelukan ibu. Masih ingin dibelai, masih ingin bermanja-manja.
Menjalani hari-hari selanjutnya, aku seperti merasakan kehadiran ibu. Misalnya di saat-saat sulit dalam kehidupan, dimana aku merasa begitu terpuruk dan putus asa, ada kehangatan menyeruak dalam hatiku, lembut kudengar suara ibu, serasa begitu dekat, ”Tidak apa-apa Nak, semua akan baik-baik saja. Kamu pasti bisa melalui semuanya, sayang.” Atau saat-saat menyenangkan, misalnya saat aku lulus kuliah dan saat acara pengambilan sumpah, kehangatan itu kembali hadir, ”Ibu bangga padamu, Anakku.” Begitulah. Aku ingin selalu menyenangkan hati ibu. Aku ingin selalu membuat ibu bangga. Aku ingin selalu mempersembahkan yang terbaik buat ibu, meskipun ibu telah tiada.
Bagiku, ibu tetap ada dalam hatiku. Menemani saat-saat tersulit dalam hidupku, di saat aku merasa sendiri dan bersedih. Di saat aku merasakan betapa berat beban yang harus kupikul. Di saat berbagai masalah pelik mengungkungku. Saat itu aku merasakan kehadiran ibu, menemaniku, menguatkan jiwaku, dan meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja.
Aku ingat, di saat sakitnya ibu tak pernah sedikit pun mengeluh. Begitu bersemangat untuk sembuh, dan selalu tersenyum saat kami menjenguknya di rumah sakit. Sering aku melihat beberapa bagian tubuh ibu membiru setelah menjalani terapi, atau badan ibu yang makin kurus dari hari ke hari. Tapi wajah lembut itu tetap tersenyum, wajah teduh itu tak pernah sekalipun menitikkan air mata. Setidaknya di depan kami, anak-anaknya. Ibu terlihat sangat tegar dan tabah menjalani semuanya. Mungkin semangat dan ketegaran ibu itu pula yang mengalir dalam jiwaku.
”Yakinlah Allah akan selalu menyertai kita, Anakku. Yang penting niat kita baik, tidak merugikan orang lain dan demi kebaikan semua pihak, yakinlah pertolongan Allah akan datang. Gusti Allah itu tidak tidur, Nduk. Tidak akan tertukar kebaikan dan keburukan. Setiap orang akan memanen apa yang telah ia tanam. Kebaikan akan berbuah kebaikan, keburukan akan berbuah keburukan. Maka tanamlah kebaikan di manapun kau berada, Anakku.” Kurang lebih demikian aku menerjemahkan kesabaran dan ketegaran ibu.
Sampai kini aku masih ingat salah satu pesan ibu, yaitu kami harus selalu hidup rukun, jangan lupa sholat lima waktu, tidak boleh berebut warisan dan jangan sampai bertengkar hanya karena soal harta (uang), malu-maluin, demikian kata ibu. Nasehat ibu itu masih aku pegang hingga kini.
Ibu, aku sangat mencintaimu. Sampai kini aku masih bisa merasakan tulusnya cinta ibu. Cinta yang memberiku kekuatan tuk jalani seberat apapun warna kehidupan. Terima kasih, Ibu...
Robbighfirli wali waali daiya warhamhumaa kamaa robbayaani shogiiro...
Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kedua orang tuaku
Ya Allah, sayangilah bapak dan ibuku
Sebagaimana mereka berdua menyayangiku di masa kecil
Amin ya Robbal ’alamiin
Jumat, 26 Juni 2009
Langganan:
Komentar (Atom)