Rabu, 05 September 2012

Arti Seseorang

sering kau sadari
arti seseorang
saat dia tak lagi bersamamu

karena itu
cintai dia yang sekarang "ada" di sisimu
meski mungkin belum di hatimu...

Selasa, 21 Juni 2011

BELAJAR SABAR



Ada sebuah hati yang harus selalu belajar
Belajar untuk sabar
Belajar untuk tersenyum
Belajar untuk ikhlas
Belajar untuk menahan amarah
Belajar berkata yang baik-baik saja
Belajar menahan keluhan
Belajar menahan membicarakan keburukan teman
Belajar menahan lisan agar tak menyakiti hati sesama
Belajar... ya belajar dan terus belajar

Jika semua jerih payahmu tak dihargai
Maka saat itu kau sedang belajar inti keikhlasan
Tersenyum dan yakin bahwa letihmu pasti akan tak sia-sia

Jika pemberian tulusmu sama sekali tak dihargai dan salah dimengerti
Maka saat itu kau sedang belajar makna kesabaran
Karena ada kalanya maksud baik tidak selalu diterima dengan baik
Tetap tersenyum yang yakin bahwa Allah Maha Melihat warna hati kita

Jika hatimu terluka sangat dalam
Oleh kata-kata tajam menikam
Maka saat itu kau sedang belajar memaafkan

Jika apa yang kau berikan
Apa yang kau upayakan
Tak pernah berbuah ucapan terima kasih
Atau ucapan terima kasih yang dibumbui kata-kata yang menyakitkan

(sangat amat heran, ada orang mengucapkan terima kasih dalam amarah, dalam cacian dan hinaan kepada seseorang yg telah berusaha dengan sangat susah payah berniat  memberikan sebuah hadiah kecil, dengan harapan bisa mendatangkan kebahagiaan bagi yang diberi... tapi......ah... mungkin supaya terbuka mata hati, bahwa apa yang keluar dari seseorang, baik dan buruk, lisan, ucapan dan perbuatan.... sungguh semua itu menunjukkan kualitas orang tersebut.... jika lisan, ucapan, perbuatan kita, semuanya baik... menyejukkan bagi yg mendengar, tahu diri, tahu berterima kasih, tidak arogan... itulah kualitas kita. Tapi kalau sebaliknya...ya mau tidak mau itu juga adalah tingkatan kualitas kita... ah... tidak perlu ditanggapi, ada pengadilan tinggi yang tak pernah salah ......)

Maka saat itu kau sedang belajar hanya mengharap ridho Allah semata
Bukan ucapan terima kasih mereka yang membuatmu mulia
Bukan pula cacian mereka yang lantas membuatmu hina
Tapi kualitas dalam hatimu
Kesungguhanmu, kebaikan hatimu, kesabaranmu, ketegaranmu, kekuatanmu menahan amarah dan keikhlasanmu memaafkan...

Pernahkan kau berdoa

Ya Allah.... berikan aku hati yang penuh cinta
Dan Allah memberikan orang-orang yang bermasalah untu dibantu

Ya Allah, berikan aku kekayaan
Dan Allah memberikan kesehatan, waktu luang, pendidikan, hingga kau bisa bekerja dengan baik

Ya Allah, berikan aku kebijaksanaan
Dan Allah memberikan masalah demi masaah untuk kau selesaikan

Ah... Allah tak pernah memberi yang kau minta
Tapi Allah memberi apa yang kau butuhkan

Sebenarnya semua masalah dalam hidup ini
Membuat kita menjadi tangguh, sabar, pemaaf dan selalu bersemangat

Jika saja kita boleh berdoa, ya Allah beri aku hidup yang mulus, dan Allah menyingkirkan semua masalah dari kehidupan kita
Maka kita akan jadi hamba yang lemah
 Kita bisa sekuat ini, bisa sesabar ini.....karena banyaknya masalah demi masalah yang hsrus kita lewati dan harus kita selesaikan

Dan alhamdulillah... kita sudah sejauh ini...
Semoga kasih sayang Allah selalu menyertai langkah kecil kita

Ingatlah...
Bukan pujian orang yang membuatmu mulia
Bukan cacian mereka yang membuatmu hina

Ada Allah yang selalu tersenyum
Temani setiap niat baik kita

Salam sayang
Seliara

Suami dari Negeri Dongeng


Kadang ada bagian lisan yang perlu kita benahi
Kadang ada bagian sikap yang perlu kita perlembut
Kadang ada bagian hati yang perlu kita percantik

Dan ini adalah kisah bukan di negeri dongeng

Ada seorang istri yang sedang di atm
Sedang membayar tagihan telepon seluler
Selesai menuntaskan keperluannya, iseng ia memencet nomor hp sang suami
Oh, ternyata dilihatnya tagihan sang suami belum terbayar
Terpikir olehnya untuk membayar tagihan suaminya sekalian
Dan ditekannya tombol ”yes” untuk konfirmasi pembayaran

Si istri pun sms ke suaminya kalau pembayaran kartu telepon suaminya sudah ia lakukan
Berharap sang suami akan merasa tenang
Ah...mungkin suamiku belum sempat membayar, begitu pikirnya

”Mas, tadi aku lagi di ATM, bayar tagihan hp, sekalian deh aku bayar tagihan mas...” begitu bunyi sms-nya..

Dan inilah jawaban sang suami dari negeri dongeng...

”Terima kasih Bunda...”

Sebuah jawaban singkat yang menenangkan hati
Sebuah ungkapan cinta yang sederhana dan bermakna

Dan sang istri pun akan tersenyum bahagia
Rasa sayang dan cintanya pada sang suami kian bertambah

Tapi sayangnya tadi adalah jawaban sang suami dari negeri dongeng
Dan inilah jawaban sang suami dari bukan negeri dongeng

”Ngapain sih bayar tagihan hp-ku?! Kan aku udah pakai kartu kredit?! Kan langsung dibebankan ke kartu kredit? Gimana sih...?!!”

Dan sang istri pun hanya bisa terpana mendengar reaksi cukup keras dari suaminya....
Dia juga tak tahu kalau tagihan itu sudah dibebankan di kartu kredit
Nada  marah suaminya membuat hatinya sedikit terluka

”Makasih ya Bunda sudah dibayarkan... tapi lain kali Bunda tidak usah repot2, kan ayah sudah bebankan tagihan hp ke kartu kredit...”

Aahhh.... sekali lagi itu adalah jawaban manis dari sang suami dari negeri dongeng...

Jika... hanya jika, suami kita bukan suami dari negeri dongeng... semoga Allah memberikan bukit kesabaran dan lautan keikhlasan di hati para Bunda di seluruh dunia ini... ^_^

Amin ya Robbal ’alamiin

Salam sayang
Seliara

Kamis, 16 Juni 2011

UNIVERSITAS KEHIDUPAN

Ketika kerjamu tidak dihargai
maka saat itu kau sedang belajar arti KETULUSAN

Ketika usahamu dinilai tidak penting
maka saat itu kau sedang belajar arti KEIKHLASAN

Ketika hatimu terluka sangat dalam
maka saat itu kau sedang belajar arti MEMAAFKAN

Ketika kau harus lelah dan kecewa
maka saat itu kau sedang belajar arti KESUNGGUHAN

Ketika kau merasa sepi
maka saat itu kau sedang belajar arti KETANGGUHAN

Ketika kau harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung
maka saat itu kau sedang belajar arti KEMURAHAN HATI

Tetap semangat, sabar, senyum...
Terus Belajar....
Karena kau sedang menimba ilmu di "UNIVERSITAS KEHIDUPAN"

Sumber : mhn maaf, tidak tahu penulisnya krn sdh sering di copy paste, smg bisa diambil hikmahnya

^_^

Rabu, 19 Mei 2010

Nasibmu Tergantung Kharaktermu

Pikirkanlah akal pikirmu
Karena itu akan menjadi ucapanmu

Pikirkanlah ucapanmu
Karena itu akan menjadi sikapmu

Pikirkanlah sikapmu
Karena itu akan menjadi tindakanmu

Pikirkanlah tindakanmu
Karena itu akan menjadi kebiasaanmu

Pikirkanlah kebiasaanmu
Karena itu akan menjadi kharaktermu

Pikirkanlah kharaktermu
Karena itu akan menjadi nasibmu

Filed under: Dog Fight - Pertempuran Udara, Kehidupan

(FB Budhi Achmadi - note)

Jumat, 26 Juni 2009

IBU

Oh Bunda
ada dan tiada
dirimu kan selalu ada
di dalam hatiku

”Bunda”
Melly Goeslaw

Saat itu, aku masih terlalu kecil, untuk memaknai arti sebuah ’kehilangan’. Di usianya yang relatif masih muda, ibu menderita suatu penyakit. Waktu itu aku tidak begitu tahu penyakit ibu, ada yang bilang ibu sakit kanker. Yang pasti, ibu sudah cukup lama dirawat di rumah sakit di kota Madiun. Lalu pindah ke Bethesda dan Sarjito. Dua rumah sakit terakhir ini terletak di kota Jogjakarta. Masih segar dalam ingatanku, ketika dirawat di Jogja, hampir setiap akhir pekan kami menengok ibu ke Jogja. Namanya juga anak kecil, waktu itu kami gembira sekali. Yang tersimpan dalam ingatan masa kecilku, pergi ke Jogja sama artinya dengan jalan-jalan ke Candi Borobudur dan Prambanan, bertemu buah anggur dan kelengkeng (yang saat itu masih merupakan buah yang asing bagiku, tapi aku sangat menyukainya), menaruh sesuatu di kulkas –yang ada di rumah sakit- yang hampir tiap saat kami buka, untuk mengetahui apakah benda yang kami taruh sudah menjadi dingin atau belum (saat itu kulkas masih merupakan benda baru bagi kami, sebuah lemari ajaib yang bisa mendinginkan makanan, bahkan mengubah air menjadi es, hm... menarik bukan?) dan hal-hal indah lainnya di mata seorang anak berusia 7 tahun.

Selepas dirawat di Jogja, ibu pulang dan menjalani perawatan rumah. Baru beberapa tahun kemudian aku paham, ternyata kepulangan ibu ke rumah adalah karena pihak rumah sakit sudah angkat tangan dengan kondisi ibu. Saat itu ibu meminta pulang ke rumah dan ingin dekat dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil yang kesemuanya berjumlah lima orang. Saat itu kakak tertua kelas 5 SD dan adikku yang terkecil masih TK. Malam itu seperti biasa, setelah makan malam aku ikut (baca : ikut-ikutan) menyiapkan obat untuk ibu. Saat itu bapak sedang pergi ke Cianjur karena ada saudara yang bilang di Cianjur ada obat tradisional untuk penyakit ibu. Segera bapak pergi ke sana demi kesembuhan ibu.

Malam itu kulihat ibu lebih segar dari biasanya. Beliau tampak cermat mengecek obat yang harus diminum, karena obat yang diminum malam hari berbeda dengan obat yang diminum pagi atau siang hari. Setelah minum obat, ibu bercengkerama dengan kami sebentar, seperti biasa ibu selalu menanyakan apakah kami sudah makan atau belum, apakah kami sudah mengerjakan pr atau belum.

Lalu kami pun masuk ke kamar masing-masing dan bersiap tidur. Baru saja akan memejamkan mata, terdengar suara takbir dari kamar ibu, bercampur dengan jerit tangis saudara-saudara yang malam itu menjaga ibu. Kami, anak-anak segera masuk ke kamar ibu. Ternyata, ibu sudah pergi. Ibu meninggal di tempat tidur, dikelilingi kami anak-anaknya. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Aku menangis, tak bersuara. Dadaku terasa begitu sesak. Kami waktu itu masih sangat kecil. Saling berpandangan, semua menangis. Ibu telah meninggal. Ya, ibu telah pergi untuk selama-lamanya. Meninggalkan kami, anak-anaknya yang saat itu masih sangat kecil-kecil. Itulah saat yang paling menyedihkan dalam hidupku. Aku sama sekali tak siap kehilangan ibu. Aku sama sekali tak pernah menyangka ibu akan pergi secepat itu. Aku tahu ibu memang sudah lama sakit. Berkali-kali keluar masuk rumah sakit dan harus rutin minum obat. Tapi dalam pikiran kecilku saat itu, ibu pasti akan sembuh, seperti ibunya teman-temanku yang lain. Yang sakit dan sembuh. Tapi kenapa ibu meninggal? Aku tak mengerti. Aku hanya sedih dan begitu sedih.

Orang-orang dewasa di sekelilingku saat itu berkata, ”Sudah, jangan menangis, perjalanan ibu nanti akan berat kalau anak-anak masih menangis.” Akhirnya aku berusaha untuk tidak menangis meskipun sebenarnya saat itu aku masih ingin menangis. Tapi aku berusaha sebisa mungkin menahan tangis, aku hanya tidak ingin perjalanan ibu menjadi berat, seperti yang dikatakan orang dewasa saat itu. Mereka juga berkata bahwa ibu meninggal karena Gusti Allah sayang sama ibu, daripada kasihan melihat ibu sakit terus, maka Allah ingin mengangkat penyakit ibu. Meskipun itu berarti aku harus kehilangan ibu. Meski itu berarti ibu harus berpisah dengan kami anak-anaknya. Aku berusaha mengikhlaskan kepergian ibu. Daripada melihat ibu sakit terus, dengan kepergiannya itu, berarti ibu tak perlu merasakan sakit lebih lama lagi.

Tanpa aku sadari, kehilangan itu meninggalkan sebuah noktah kecil di hati. Aku merindukan kehadiran ibu. Hampir setiap malam aku menangis diam-diam karena rasa kehilangan yang sangat. Kesedihan yang luar biasa mendera. Ternyata, aku masih belum bisa mengikhlaskan kepergian ibu sepenuhnya. Hatiku masih belum bisa menerima bahwa kini aku tak bisa lagi bertemu dengan ibu. Bahwa aku sangat mencintai ibu dan tak ingin berpisah dengan ibu selamanya. Aku masih ingin merasakan hangatnya pelukan ibu. Masih ingin dibelai, masih ingin bermanja-manja.

Menjalani hari-hari selanjutnya, aku seperti merasakan kehadiran ibu. Misalnya di saat-saat sulit dalam kehidupan, dimana aku merasa begitu terpuruk dan putus asa, ada kehangatan menyeruak dalam hatiku, lembut kudengar suara ibu, serasa begitu dekat, ”Tidak apa-apa Nak, semua akan baik-baik saja. Kamu pasti bisa melalui semuanya, sayang.” Atau saat-saat menyenangkan, misalnya saat aku lulus kuliah dan saat acara pengambilan sumpah, kehangatan itu kembali hadir, ”Ibu bangga padamu, Anakku.” Begitulah. Aku ingin selalu menyenangkan hati ibu. Aku ingin selalu membuat ibu bangga. Aku ingin selalu mempersembahkan yang terbaik buat ibu, meskipun ibu telah tiada.

Bagiku, ibu tetap ada dalam hatiku. Menemani saat-saat tersulit dalam hidupku, di saat aku merasa sendiri dan bersedih. Di saat aku merasakan betapa berat beban yang harus kupikul. Di saat berbagai masalah pelik mengungkungku. Saat itu aku merasakan kehadiran ibu, menemaniku, menguatkan jiwaku, dan meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja.

Aku ingat, di saat sakitnya ibu tak pernah sedikit pun mengeluh. Begitu bersemangat untuk sembuh, dan selalu tersenyum saat kami menjenguknya di rumah sakit. Sering aku melihat beberapa bagian tubuh ibu membiru setelah menjalani terapi, atau badan ibu yang makin kurus dari hari ke hari. Tapi wajah lembut itu tetap tersenyum, wajah teduh itu tak pernah sekalipun menitikkan air mata. Setidaknya di depan kami, anak-anaknya. Ibu terlihat sangat tegar dan tabah menjalani semuanya. Mungkin semangat dan ketegaran ibu itu pula yang mengalir dalam jiwaku.

”Yakinlah Allah akan selalu menyertai kita, Anakku. Yang penting niat kita baik, tidak merugikan orang lain dan demi kebaikan semua pihak, yakinlah pertolongan Allah akan datang. Gusti Allah itu tidak tidur, Nduk. Tidak akan tertukar kebaikan dan keburukan. Setiap orang akan memanen apa yang telah ia tanam. Kebaikan akan berbuah kebaikan, keburukan akan berbuah keburukan. Maka tanamlah kebaikan di manapun kau berada, Anakku.” Kurang lebih demikian aku menerjemahkan kesabaran dan ketegaran ibu.

Sampai kini aku masih ingat salah satu pesan ibu, yaitu kami harus selalu hidup rukun, jangan lupa sholat lima waktu, tidak boleh berebut warisan dan jangan sampai bertengkar hanya karena soal harta (uang), malu-maluin, demikian kata ibu. Nasehat ibu itu masih aku pegang hingga kini.

Ibu, aku sangat mencintaimu. Sampai kini aku masih bisa merasakan tulusnya cinta ibu. Cinta yang memberiku kekuatan tuk jalani seberat apapun warna kehidupan. Terima kasih, Ibu...


Robbighfirli wali waali daiya warhamhumaa kamaa robbayaani shogiiro...
Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kedua orang tuaku
Ya Allah, sayangilah bapak dan ibuku
Sebagaimana mereka berdua menyayangiku di masa kecil
Amin ya Robbal ’alamiin

Sabtu, 09 Mei 2009

Cinta

Orang menangis karena cinta, rasanya ingin mati saja. Saya bisa mengerti, cinta bisa membuat orang lupa. Cinta itu buta. Mungkin tidak semua orang pernah mengalaminya. Cinta yang begitu berlebihan pada seseorang, selalu saja meninggalkan penderitaan dan air mata. Saat cinta harus berpisah. Saat cinta tak dapat bersatu. Saat orang yang sangat kita cintai meninggalkan kita. Rasanya memang ingin mati saja, tak ada guna hidup di dunia.

Tapi cinta bisa membuat orang bahagia, tersenyum ceria dan membuat segalanya terasa indah. Berada dalam keluarga yang saling mencinta, anak-anak yang tumbuh ceria, suami yang hangat. Semua saling mencinta dan menyayangi. Cinta bisa mengubah kelelahan menjadi kebahagiaan. Mengubah penderitaan menjadi senyum ceria. Itulah cinta. Kesusahan langsung lenyap, beban berat terasa ringan. Itulah cinta.