Selasa, 21 Juni 2011

BELAJAR SABAR



Ada sebuah hati yang harus selalu belajar
Belajar untuk sabar
Belajar untuk tersenyum
Belajar untuk ikhlas
Belajar untuk menahan amarah
Belajar berkata yang baik-baik saja
Belajar menahan keluhan
Belajar menahan membicarakan keburukan teman
Belajar menahan lisan agar tak menyakiti hati sesama
Belajar... ya belajar dan terus belajar

Jika semua jerih payahmu tak dihargai
Maka saat itu kau sedang belajar inti keikhlasan
Tersenyum dan yakin bahwa letihmu pasti akan tak sia-sia

Jika pemberian tulusmu sama sekali tak dihargai dan salah dimengerti
Maka saat itu kau sedang belajar makna kesabaran
Karena ada kalanya maksud baik tidak selalu diterima dengan baik
Tetap tersenyum yang yakin bahwa Allah Maha Melihat warna hati kita

Jika hatimu terluka sangat dalam
Oleh kata-kata tajam menikam
Maka saat itu kau sedang belajar memaafkan

Jika apa yang kau berikan
Apa yang kau upayakan
Tak pernah berbuah ucapan terima kasih
Atau ucapan terima kasih yang dibumbui kata-kata yang menyakitkan

(sangat amat heran, ada orang mengucapkan terima kasih dalam amarah, dalam cacian dan hinaan kepada seseorang yg telah berusaha dengan sangat susah payah berniat  memberikan sebuah hadiah kecil, dengan harapan bisa mendatangkan kebahagiaan bagi yang diberi... tapi......ah... mungkin supaya terbuka mata hati, bahwa apa yang keluar dari seseorang, baik dan buruk, lisan, ucapan dan perbuatan.... sungguh semua itu menunjukkan kualitas orang tersebut.... jika lisan, ucapan, perbuatan kita, semuanya baik... menyejukkan bagi yg mendengar, tahu diri, tahu berterima kasih, tidak arogan... itulah kualitas kita. Tapi kalau sebaliknya...ya mau tidak mau itu juga adalah tingkatan kualitas kita... ah... tidak perlu ditanggapi, ada pengadilan tinggi yang tak pernah salah ......)

Maka saat itu kau sedang belajar hanya mengharap ridho Allah semata
Bukan ucapan terima kasih mereka yang membuatmu mulia
Bukan pula cacian mereka yang lantas membuatmu hina
Tapi kualitas dalam hatimu
Kesungguhanmu, kebaikan hatimu, kesabaranmu, ketegaranmu, kekuatanmu menahan amarah dan keikhlasanmu memaafkan...

Pernahkan kau berdoa

Ya Allah.... berikan aku hati yang penuh cinta
Dan Allah memberikan orang-orang yang bermasalah untu dibantu

Ya Allah, berikan aku kekayaan
Dan Allah memberikan kesehatan, waktu luang, pendidikan, hingga kau bisa bekerja dengan baik

Ya Allah, berikan aku kebijaksanaan
Dan Allah memberikan masalah demi masaah untuk kau selesaikan

Ah... Allah tak pernah memberi yang kau minta
Tapi Allah memberi apa yang kau butuhkan

Sebenarnya semua masalah dalam hidup ini
Membuat kita menjadi tangguh, sabar, pemaaf dan selalu bersemangat

Jika saja kita boleh berdoa, ya Allah beri aku hidup yang mulus, dan Allah menyingkirkan semua masalah dari kehidupan kita
Maka kita akan jadi hamba yang lemah
 Kita bisa sekuat ini, bisa sesabar ini.....karena banyaknya masalah demi masalah yang hsrus kita lewati dan harus kita selesaikan

Dan alhamdulillah... kita sudah sejauh ini...
Semoga kasih sayang Allah selalu menyertai langkah kecil kita

Ingatlah...
Bukan pujian orang yang membuatmu mulia
Bukan cacian mereka yang membuatmu hina

Ada Allah yang selalu tersenyum
Temani setiap niat baik kita

Salam sayang
Seliara

Suami dari Negeri Dongeng


Kadang ada bagian lisan yang perlu kita benahi
Kadang ada bagian sikap yang perlu kita perlembut
Kadang ada bagian hati yang perlu kita percantik

Dan ini adalah kisah bukan di negeri dongeng

Ada seorang istri yang sedang di atm
Sedang membayar tagihan telepon seluler
Selesai menuntaskan keperluannya, iseng ia memencet nomor hp sang suami
Oh, ternyata dilihatnya tagihan sang suami belum terbayar
Terpikir olehnya untuk membayar tagihan suaminya sekalian
Dan ditekannya tombol ”yes” untuk konfirmasi pembayaran

Si istri pun sms ke suaminya kalau pembayaran kartu telepon suaminya sudah ia lakukan
Berharap sang suami akan merasa tenang
Ah...mungkin suamiku belum sempat membayar, begitu pikirnya

”Mas, tadi aku lagi di ATM, bayar tagihan hp, sekalian deh aku bayar tagihan mas...” begitu bunyi sms-nya..

Dan inilah jawaban sang suami dari negeri dongeng...

”Terima kasih Bunda...”

Sebuah jawaban singkat yang menenangkan hati
Sebuah ungkapan cinta yang sederhana dan bermakna

Dan sang istri pun akan tersenyum bahagia
Rasa sayang dan cintanya pada sang suami kian bertambah

Tapi sayangnya tadi adalah jawaban sang suami dari negeri dongeng
Dan inilah jawaban sang suami dari bukan negeri dongeng

”Ngapain sih bayar tagihan hp-ku?! Kan aku udah pakai kartu kredit?! Kan langsung dibebankan ke kartu kredit? Gimana sih...?!!”

Dan sang istri pun hanya bisa terpana mendengar reaksi cukup keras dari suaminya....
Dia juga tak tahu kalau tagihan itu sudah dibebankan di kartu kredit
Nada  marah suaminya membuat hatinya sedikit terluka

”Makasih ya Bunda sudah dibayarkan... tapi lain kali Bunda tidak usah repot2, kan ayah sudah bebankan tagihan hp ke kartu kredit...”

Aahhh.... sekali lagi itu adalah jawaban manis dari sang suami dari negeri dongeng...

Jika... hanya jika, suami kita bukan suami dari negeri dongeng... semoga Allah memberikan bukit kesabaran dan lautan keikhlasan di hati para Bunda di seluruh dunia ini... ^_^

Amin ya Robbal ’alamiin

Salam sayang
Seliara

Kamis, 16 Juni 2011

UNIVERSITAS KEHIDUPAN

Ketika kerjamu tidak dihargai
maka saat itu kau sedang belajar arti KETULUSAN

Ketika usahamu dinilai tidak penting
maka saat itu kau sedang belajar arti KEIKHLASAN

Ketika hatimu terluka sangat dalam
maka saat itu kau sedang belajar arti MEMAAFKAN

Ketika kau harus lelah dan kecewa
maka saat itu kau sedang belajar arti KESUNGGUHAN

Ketika kau merasa sepi
maka saat itu kau sedang belajar arti KETANGGUHAN

Ketika kau harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kau tanggung
maka saat itu kau sedang belajar arti KEMURAHAN HATI

Tetap semangat, sabar, senyum...
Terus Belajar....
Karena kau sedang menimba ilmu di "UNIVERSITAS KEHIDUPAN"

Sumber : mhn maaf, tidak tahu penulisnya krn sdh sering di copy paste, smg bisa diambil hikmahnya

^_^

Rabu, 19 Mei 2010

Nasibmu Tergantung Kharaktermu

Pikirkanlah akal pikirmu
Karena itu akan menjadi ucapanmu

Pikirkanlah ucapanmu
Karena itu akan menjadi sikapmu

Pikirkanlah sikapmu
Karena itu akan menjadi tindakanmu

Pikirkanlah tindakanmu
Karena itu akan menjadi kebiasaanmu

Pikirkanlah kebiasaanmu
Karena itu akan menjadi kharaktermu

Pikirkanlah kharaktermu
Karena itu akan menjadi nasibmu

Filed under: Dog Fight - Pertempuran Udara, Kehidupan

(FB Budhi Achmadi - note)

Jumat, 26 Juni 2009

IBU

Oh Bunda
ada dan tiada
dirimu kan selalu ada
di dalam hatiku

”Bunda”
Melly Goeslaw

Saat itu, aku masih terlalu kecil, untuk memaknai arti sebuah ’kehilangan’. Di usianya yang relatif masih muda, ibu menderita suatu penyakit. Waktu itu aku tidak begitu tahu penyakit ibu, ada yang bilang ibu sakit kanker. Yang pasti, ibu sudah cukup lama dirawat di rumah sakit di kota Madiun. Lalu pindah ke Bethesda dan Sarjito. Dua rumah sakit terakhir ini terletak di kota Jogjakarta. Masih segar dalam ingatanku, ketika dirawat di Jogja, hampir setiap akhir pekan kami menengok ibu ke Jogja. Namanya juga anak kecil, waktu itu kami gembira sekali. Yang tersimpan dalam ingatan masa kecilku, pergi ke Jogja sama artinya dengan jalan-jalan ke Candi Borobudur dan Prambanan, bertemu buah anggur dan kelengkeng (yang saat itu masih merupakan buah yang asing bagiku, tapi aku sangat menyukainya), menaruh sesuatu di kulkas –yang ada di rumah sakit- yang hampir tiap saat kami buka, untuk mengetahui apakah benda yang kami taruh sudah menjadi dingin atau belum (saat itu kulkas masih merupakan benda baru bagi kami, sebuah lemari ajaib yang bisa mendinginkan makanan, bahkan mengubah air menjadi es, hm... menarik bukan?) dan hal-hal indah lainnya di mata seorang anak berusia 7 tahun.

Selepas dirawat di Jogja, ibu pulang dan menjalani perawatan rumah. Baru beberapa tahun kemudian aku paham, ternyata kepulangan ibu ke rumah adalah karena pihak rumah sakit sudah angkat tangan dengan kondisi ibu. Saat itu ibu meminta pulang ke rumah dan ingin dekat dengan anak-anaknya yang masih kecil-kecil yang kesemuanya berjumlah lima orang. Saat itu kakak tertua kelas 5 SD dan adikku yang terkecil masih TK. Malam itu seperti biasa, setelah makan malam aku ikut (baca : ikut-ikutan) menyiapkan obat untuk ibu. Saat itu bapak sedang pergi ke Cianjur karena ada saudara yang bilang di Cianjur ada obat tradisional untuk penyakit ibu. Segera bapak pergi ke sana demi kesembuhan ibu.

Malam itu kulihat ibu lebih segar dari biasanya. Beliau tampak cermat mengecek obat yang harus diminum, karena obat yang diminum malam hari berbeda dengan obat yang diminum pagi atau siang hari. Setelah minum obat, ibu bercengkerama dengan kami sebentar, seperti biasa ibu selalu menanyakan apakah kami sudah makan atau belum, apakah kami sudah mengerjakan pr atau belum.

Lalu kami pun masuk ke kamar masing-masing dan bersiap tidur. Baru saja akan memejamkan mata, terdengar suara takbir dari kamar ibu, bercampur dengan jerit tangis saudara-saudara yang malam itu menjaga ibu. Kami, anak-anak segera masuk ke kamar ibu. Ternyata, ibu sudah pergi. Ibu meninggal di tempat tidur, dikelilingi kami anak-anaknya. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Aku menangis, tak bersuara. Dadaku terasa begitu sesak. Kami waktu itu masih sangat kecil. Saling berpandangan, semua menangis. Ibu telah meninggal. Ya, ibu telah pergi untuk selama-lamanya. Meninggalkan kami, anak-anaknya yang saat itu masih sangat kecil-kecil. Itulah saat yang paling menyedihkan dalam hidupku. Aku sama sekali tak siap kehilangan ibu. Aku sama sekali tak pernah menyangka ibu akan pergi secepat itu. Aku tahu ibu memang sudah lama sakit. Berkali-kali keluar masuk rumah sakit dan harus rutin minum obat. Tapi dalam pikiran kecilku saat itu, ibu pasti akan sembuh, seperti ibunya teman-temanku yang lain. Yang sakit dan sembuh. Tapi kenapa ibu meninggal? Aku tak mengerti. Aku hanya sedih dan begitu sedih.

Orang-orang dewasa di sekelilingku saat itu berkata, ”Sudah, jangan menangis, perjalanan ibu nanti akan berat kalau anak-anak masih menangis.” Akhirnya aku berusaha untuk tidak menangis meskipun sebenarnya saat itu aku masih ingin menangis. Tapi aku berusaha sebisa mungkin menahan tangis, aku hanya tidak ingin perjalanan ibu menjadi berat, seperti yang dikatakan orang dewasa saat itu. Mereka juga berkata bahwa ibu meninggal karena Gusti Allah sayang sama ibu, daripada kasihan melihat ibu sakit terus, maka Allah ingin mengangkat penyakit ibu. Meskipun itu berarti aku harus kehilangan ibu. Meski itu berarti ibu harus berpisah dengan kami anak-anaknya. Aku berusaha mengikhlaskan kepergian ibu. Daripada melihat ibu sakit terus, dengan kepergiannya itu, berarti ibu tak perlu merasakan sakit lebih lama lagi.

Tanpa aku sadari, kehilangan itu meninggalkan sebuah noktah kecil di hati. Aku merindukan kehadiran ibu. Hampir setiap malam aku menangis diam-diam karena rasa kehilangan yang sangat. Kesedihan yang luar biasa mendera. Ternyata, aku masih belum bisa mengikhlaskan kepergian ibu sepenuhnya. Hatiku masih belum bisa menerima bahwa kini aku tak bisa lagi bertemu dengan ibu. Bahwa aku sangat mencintai ibu dan tak ingin berpisah dengan ibu selamanya. Aku masih ingin merasakan hangatnya pelukan ibu. Masih ingin dibelai, masih ingin bermanja-manja.

Menjalani hari-hari selanjutnya, aku seperti merasakan kehadiran ibu. Misalnya di saat-saat sulit dalam kehidupan, dimana aku merasa begitu terpuruk dan putus asa, ada kehangatan menyeruak dalam hatiku, lembut kudengar suara ibu, serasa begitu dekat, ”Tidak apa-apa Nak, semua akan baik-baik saja. Kamu pasti bisa melalui semuanya, sayang.” Atau saat-saat menyenangkan, misalnya saat aku lulus kuliah dan saat acara pengambilan sumpah, kehangatan itu kembali hadir, ”Ibu bangga padamu, Anakku.” Begitulah. Aku ingin selalu menyenangkan hati ibu. Aku ingin selalu membuat ibu bangga. Aku ingin selalu mempersembahkan yang terbaik buat ibu, meskipun ibu telah tiada.

Bagiku, ibu tetap ada dalam hatiku. Menemani saat-saat tersulit dalam hidupku, di saat aku merasa sendiri dan bersedih. Di saat aku merasakan betapa berat beban yang harus kupikul. Di saat berbagai masalah pelik mengungkungku. Saat itu aku merasakan kehadiran ibu, menemaniku, menguatkan jiwaku, dan meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja.

Aku ingat, di saat sakitnya ibu tak pernah sedikit pun mengeluh. Begitu bersemangat untuk sembuh, dan selalu tersenyum saat kami menjenguknya di rumah sakit. Sering aku melihat beberapa bagian tubuh ibu membiru setelah menjalani terapi, atau badan ibu yang makin kurus dari hari ke hari. Tapi wajah lembut itu tetap tersenyum, wajah teduh itu tak pernah sekalipun menitikkan air mata. Setidaknya di depan kami, anak-anaknya. Ibu terlihat sangat tegar dan tabah menjalani semuanya. Mungkin semangat dan ketegaran ibu itu pula yang mengalir dalam jiwaku.

”Yakinlah Allah akan selalu menyertai kita, Anakku. Yang penting niat kita baik, tidak merugikan orang lain dan demi kebaikan semua pihak, yakinlah pertolongan Allah akan datang. Gusti Allah itu tidak tidur, Nduk. Tidak akan tertukar kebaikan dan keburukan. Setiap orang akan memanen apa yang telah ia tanam. Kebaikan akan berbuah kebaikan, keburukan akan berbuah keburukan. Maka tanamlah kebaikan di manapun kau berada, Anakku.” Kurang lebih demikian aku menerjemahkan kesabaran dan ketegaran ibu.

Sampai kini aku masih ingat salah satu pesan ibu, yaitu kami harus selalu hidup rukun, jangan lupa sholat lima waktu, tidak boleh berebut warisan dan jangan sampai bertengkar hanya karena soal harta (uang), malu-maluin, demikian kata ibu. Nasehat ibu itu masih aku pegang hingga kini.

Ibu, aku sangat mencintaimu. Sampai kini aku masih bisa merasakan tulusnya cinta ibu. Cinta yang memberiku kekuatan tuk jalani seberat apapun warna kehidupan. Terima kasih, Ibu...


Robbighfirli wali waali daiya warhamhumaa kamaa robbayaani shogiiro...
Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kedua orang tuaku
Ya Allah, sayangilah bapak dan ibuku
Sebagaimana mereka berdua menyayangiku di masa kecil
Amin ya Robbal ’alamiin

Sabtu, 09 Mei 2009

Cinta

Orang menangis karena cinta, rasanya ingin mati saja. Saya bisa mengerti, cinta bisa membuat orang lupa. Cinta itu buta. Mungkin tidak semua orang pernah mengalaminya. Cinta yang begitu berlebihan pada seseorang, selalu saja meninggalkan penderitaan dan air mata. Saat cinta harus berpisah. Saat cinta tak dapat bersatu. Saat orang yang sangat kita cintai meninggalkan kita. Rasanya memang ingin mati saja, tak ada guna hidup di dunia.

Tapi cinta bisa membuat orang bahagia, tersenyum ceria dan membuat segalanya terasa indah. Berada dalam keluarga yang saling mencinta, anak-anak yang tumbuh ceria, suami yang hangat. Semua saling mencinta dan menyayangi. Cinta bisa mengubah kelelahan menjadi kebahagiaan. Mengubah penderitaan menjadi senyum ceria. Itulah cinta. Kesusahan langsung lenyap, beban berat terasa ringan. Itulah cinta.

Sabtu, 14 Maret 2009

Jangan "ngambek" berkepanjangan pada orang yang kita kasihi


Ini adalah cerita sebenarnya (diceritakan oleh Lu Di dan di edit oleh Lian Shu Xiang)
Sebuah salah pengertian yg mengakibatkan kehancuran sebuah rumah tangga. Tatkala nilai akhir sebuah kehidupan sudah terbuka, tetapi segalanya sudah terlambat. Membawa ibu suami untuk tinggal bersama menghabiskan masa tuanya bersama kami, malah telah mengkhianati ikrar cinta yg telah kami buat selama ini, setelah 2 tahun menikah.
Saya dan suami setuju menjemput ibu suami di kampung untuk tinggal bersama. Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya, dia adalah satu-satunya harapan ibunya, ibu pula yg membesarkannya dan menyekolahkan dia hingga tamat kuliah. Saya terus mengangguk tanda setuju, kami segera menyiapkan sebuah kamar yg menghadap taman untuk ibu, agar dia dapat berjemur, menanam bunga dan sebagainya. Suami berdiri di depan kamar yg sangat kaya dengan sinar matahari, tidak sepatah katapun yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat saya dan memutar-mutar saya seperti adegan dalam film India dan berkata, "Mari, kita jemput ibu di kampung".
Suami berbadan tinggi besar, aku suka sekali menyandarkan kepalaku ke dadanya yg bidang, ada suatu perasaan nyaman dan aman disana. Aku seperti sebuah boneka kecil yg kapan saja bisa diangkat dan dimasukkan kedalam kantongnya. Kalau terjadi selisih paham diantara kami, dia suka tiba-tiba mengangkatku tinggi-tinggi diatas kepalanya dan diputar-putar sampai aku berteriak ketakutan baru diturunkan. Aku sungguh menikmati saat-saat seperti itu.
Kebiasaan ibu di kampung tidak berubah. Aku suka sekali menghias rumah dengan bunga segar, sampai akhirnya ibu tidak tahan lagi dan berkata kepada suami, "Istri kamu hidup foya-foya, buat apa beli bunga? Kan bunga tidak bisa dimakan?"
Aku menjelaskannya kepada ibu , "Ibu, rumah dengan bunga segar membuat rumah terasa lebih nyaman dan suasana hati lebih gembira."

Ibu berlalu sambil mendumel, suamiku berkata sambil tertawa, "Ibu, ini kebiasaan orang kota , lambat laun ibu akan terbiasa juga."
Ibu tidak protes lagi, tetapi setiap kali melihatku pulang sambil membawa bunga, dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya berapa harga bunga itu, setiap mendengar jawabanku dia selalu mencibir sambil menggeleng-gelengkan kepala. Setiap membawa pulang barang belanjaan, dia selalu tanya itu berapa harganya , ini berapa. Setiap aku jawab, dia selalu berdecak dengan suara keras.
Suamiku memencet hidungku sambil berkata, "Putriku, kan kamu bisa berbohong. Jangan katakan harga yang sebenarnya." Lambat laun, keharmonisan dalam rumah tanggaku mulai terusik.
Ibu sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi menyiapkan sarapan pagi untuk dia sendiri, di mata ibu seorang anak laki-laki masuk ke dapur adalah hal yang sangat memalukan. Di meja makan, wajah ibu selalu cemberut dan aku sengaja seperti tidak mengetahuinya. Ibu selalu membuat bunyi-bunyian dengan alat makan seperti sumpit dan sendok, itulah cara dia protes.
Aku adalah instrukstur tari, seharian terus menari membuat badanku sangat letih, aku tidak ingin membuang waktu istirahatku dengan bangun pagi apalagi disaat musim dingin. Ibu kadang juga suka membantuku di dapur, tetapi makin dibantu aku menjadi semakin repot, misalnya; dia suka menyimpan semua kantong-kantong bekas belanjaan, dikumpulkan bisa untuk dijual katanya. Jadilah rumahku seperti tempat pemulungan kantong plastik, dimana-mana terlihat kantong plastik besar tempat semua kumpulan kantong plastik.
Kebiasaan ibu mencuci piring bekas makan tidak menggunakan cairan pencuci, agar supaya dia tidak tersinggung, aku selalu mencucinya sekali lagi pada saat dia sudah tidur. Suatu hari, ibu mendapati aku sedang mencuci piring malam harinya, dia segera masuk ke kamar sambil membanting pintu dan menangis.
Suamiku jadi serba salah, malam itu kami tidur seperti orang bisu, aku coba bermanja-manja dengan dia, tetapi dia tidak perduli. Aku menjadi kecewa dan marah. "Apa salahku?" Dia melotot sambil berkata: "Kenapa tidak kamu biarkan saja? Apakah memakan dengan pring itu bisa membuatmu mati?"Aku dan ibu tidak bertegur sapa untuk waktu yg cukup lama, suasana mejadi kaku.
Suamiku menjadi sangat kikuk, tidak tahu harus berpihak pada siapa? Ibu tidak lagi membiarkan suamiku masuk ke dapur, setiap pagi dia selalu bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuknya, suatu kebahagiaan terpancar di wajahnya jika melihat suamiku makan dengan lahap, dengan sinar mata yang seakan mencemohku sewaktu melihat padaku, seakan berkata dimana tanggung jawabmu sebagai seorang istri? Demi menjaga suasana pagi hari tidak terganggu, aku selalu membeli makanan diluar pada saat berangkat kerja.
Saat tidur, suami berkata,"Lu di, apakah kamu merasa masakan ibu tidak enak dan tidak bersih sehingga kamu tidak pernah makan di rumah?"
Sambil memunggungiku dia berkata tanpa menghiraukan air mata yg mengalir di kedua belah pipiku. Dan dia akhirnya berkata,"Anggaplah ini sebuah permintaanku, makanlah bersama kami setiap pagi."Aku mengiyakannya dan kembali ke meja makan yg serba canggung itu.
Pagi itu ibu memasak bubur, kami sedang makan dan tiba-tiba ada suatu perasaan yg sangat mual menimpaku, seakan-akan isi perut mau keluar semua. Aku menahannya sambil berlari ke kamar mandi, sampai disana aku segera mengeluarkan semua isi perut. Setelah agak reda, aku melihat suamiku berdiri didepan pintu kamar mandi dan memandangku dengan sinar mata yg tajam, diluar sana terdengar suara tangisan ibu dan berkata-kata dengan bahasa daerahnya. Aku terdiam dan terbengong tanpa bisa berkata-kata. Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!.
Pertama kali dalam perkawinanku, aku bertengkar hebat dengan suamiku, ibu melihat kami dengan mata merah dan berjalan menjauh. Suamiku segera mengejarnya keluar rumah.
MENYAMBUT ANGGOTA KELUARGA BARU TAPI DIBAYAR DENGAN NYAWA IBU
Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga meneleponku. Aku sangat kecewa, semenjak kedatangan ibu di rumah ini, aku sudah banyak mengalah, mau bagaimana lagi? Entah kenapa aku selalu merasa mual dan kehilangan nafsu makan ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang kacau, sungguh sangat menyebalkan.
Akhirnya teman sekerjaku berkata, "Lu Di, sebaiknya kamu periksa ke dokter."
Hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang hamil. Aku baru sadar mengapa aku mual-mual pagi itu. Sebuah berita gembira yg terselip juga kesedihan. Mengapa suami dan ibu sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai sejauh itu?
Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku, 3 hari tidak bertemu dia berubah drastis, muka kusut kurang tidur, aku ingin segera berlalu tetapi rasa iba membuatku tertegun dan memanggilnya. Dia melihat ke arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi, pandangan matanya penuh dengan kebencian dan itu melukaiku. Aku berkata pada diriku sendiri, jangan lagi melihatnya dan segera memanggil taksi. Padahal aku ingin memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki seorang anak. Dan berharap aku akan diangkatnya tinggi-tinggi dan diputar-putar sampai aku minta ampun tetapi..... mimpiku tidak menjadi kenyataan.
Didalam taksi air mataku mengalir dengan deras. Mengapa kesalah pahaman ini berakibat sangat buruk? Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa tadi, memikirkan sinar matanya yg penuh dengan kebencian, aku menangis dengan sedihnya..
Tengah malam,aku mendengar suara orang membuka laci, aku menyalakan lampu dan melihat dia dgn wajah berlinang air mata sedang mengambil uang dan buku tabungannya. Aku nenatapnya dengan dingin tanpa berkata-kata. Dia seperti tidak melihatku saja dan segera berlalu..
Sepertinya dia sudah memutuskan utk meninggalkan aku. Sungguh lelaki yg sangat picik, dalam saat begini dia masih bisa membedakan antara cinta dengan uang. Aku tersenyum sambil menitikkan air mata.
Aku tidak masuk kerja keesokan harinya, aku ingin secepatnya membereskan masalah ini, aku akan membicarakan semua masalah ini dan pergi mencarinya di kantornya. Di kantornya aku bertemu dengan seketarisnya yg melihatku dengan wajah bingung.
"Ibunya pak direktur baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan sedang berada di rumah sakit."
Mulutku terbuka lebar. Aku segera menuju rumah sakit dan saat menemukannya, ibu sudah meninggal. Suamiku tidak pernah menatapku, wajahnya kaku. Aku memandang jasad ibu yg terbujur kaku. Sambil menangis aku menjerit dalam hati:"Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?"
Sampai selesai upacara pemakaman, suamiku tidak pernah bertegur sapa denganku, jika memandangku selalu dengan pandangan penuh dengan kebencian. Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain, pagi itu ibu berjalan ke arah terminal, rupanya dia mau kembali ke kampung. Suamiku mengejar sambil berlari, ibu juga berlari makin cepat sampai tidak melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan kencang.
Aku baru mengerti mengapa pandangan suamiku penuh dengan kebencian. Jika aku tidak muntah pagi itu, jika kami tidak bertengkar, jika........ ....dimatanya, akulah penyebab kematian ibunya.
Suamiku pindah ke kamar ibu, setiap malam pulang kerja dengan badan penuh dengan bau asap rokok dan alkohol. Aku merasa bersalah tetapi juga merasa harga diriku terinjak-injak. Aku ingin menjelaskan bahwa semua ini bukan salahku dan juga memberitahunya bahwa kami akan segera mempunyai anak. Tetapi melihat sinar matanya, aku tidak pernah menjelaskan masalah ini. Aku rela dipukul atau dimaki-maki olehnya walaupun ini bukan salahku.
Waktu berlalu dengan sangat lambat. Kami hidup serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain. Dia pulang makin larut malam. Suasana tegang didalam rumah.
Suatu hari, aku berjalan melewati sebuah cafe, melalui keremangan lampu dan kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku dengan seorang wanita didalam. Dia sedang menyibak rambut sang gadis dengan mesra. Aku tertegun dan mengerti apa yg telah terjadi. Aku masuk kedalam dan berdiri di depan mereka sambil menatap tajam kearahnya. Aku tidak menangis juga tidak berkata apapun karena aku juga tidak tahu harus berkata apa. Sang gadis melihatku dan ke arah suamiku dan segera hendak berlalu. Tetapi dicegah oleh suamiku dan menatap kembali ke arahku dengan sinar mata yg tidak kalah tajam dariku. Suara detak jangtungku terasa sangat keras, setiap detak suara seperti suara menuju kematian. Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka, jika tidak.. mungkin aku akan jatuh bersama bayiku dihadapan mereka.
Malam itu dia tidak pulang ke rumah. Seakan menjelaskan padaku apa yang telah terjadi. Sepeninggal ibu, rajutan cinta kasih kami juga sepertinya telah berakhir. Dia tidak kembali lagi ke rumah, kadang sewaktu pulang ke rumah, aku mendapati lemari seperti bekas dibongkar. Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya. Aku tidak ingin menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu keinginan untuk menjelaskan semua ini. Tetapi itu tidak terjadi..... ....., semua berlalu begitu saja.
Aku mulai hidup seorang diri, pergi check kandungan seorang diri. Setiap kali melihat sepasang suami istri sedang check kandungan bersama, hati ini serasa hancur. Teman-teman menyarankan agar aku membuang saja bayi ini, tetapi aku seperti orang yg sedang histeris mempertahankan miliknya. Hitung-hitung sebagai pembuktian kepada ibu bahwa aku tidak bersalah.
Suatu hari pulang kerja,aku melihat dia duduk didepan ruang tamu. Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas diatas meja, tidak perlu tanya aku juga tahu surat apa itu. 2 bulan hidup sendiri, aku sudah bisa mengontrol emosi. Sambil membuka mantel dan topi aku berkata kepadanya, " Tunggu sebentar, aku akan segera menanda tanganinya".
Dia melihatku dengan pandangan awut-awutan demikian juga aku. Aku berkata pada diri sendiri, jangan menangis, jangan menangis. Mata ini terasa sakit sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak keluar. Selesai membuka mantel, aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia memperhatikan perutku yg agak membuncit. Sambil duduk di kursi, aku menanda tangani surat itu dan menyodorkan kepadanya.
"Lu Di, kamu hamil?"
Semenjak nenek meninggal, itulah pertama kali dia berbicara kepadaku. Aku tidak bisa lagi membendung air mataku yg mengalir keluar dengan derasnya.
Aku menjawab, "Iya, tetapi tidak apa-apa. Kamu sudah boleh pergi"". Dia tidak pergi, dalam keremangan ruangan kami saling berpandangan. Perlahan-lahan dia membungkukkan badannya ke tanganku, air matanya terasa menembus lengan bajuku. Tetapi di lubuk hatiku, semua sudah berlalu, banyak hal yg sudah pergi dan tidak bisa diambil kembali.

"Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata, "Maafkan aku, maafkan aku".
Aku pernah berpikir untuk memaafkannya tetapi tidak bisa. Tatapan matanya di cafe itu tidak akan pernah aku lupakan. Cinta diantara kami telah ada sebuah luka yg menganga. Semua ini adalah sebuah akibat kesengajaan darinya.
Berharap dinding es itu akan mencair, tetapi yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Hanya sewaktu memikirkan bayiku, aku bisa bertahan untuk terus hidup. Terhadapnya, hatiku dingin bagaikan es, tidak pernah menyentuh semua makanan pembelian dia, tidak menerima semua hadiah pemberiannya tidak juga berbicara lagi dengannya. Sejak menanda tangani surat itu, semua cintaku padanya sudah berlalu, harapanku telah lenyap tidak berbekas.
Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku, aku segera berlalu ke ruang tamu, dia terpaksa kembali ke kamar ibu. Malam hari, terdengar suara orang mengerang dari kamar ibu tetapi aku tidak perduli. Itu adalah permainan dia dari dulu. Jika aku tidak perduli padanya, dia akan berpura-pura sakit sampai aku menghampirinya dan bertanya apa yang sakit. Dia lalu akan memelukku sambil tertawa terbahak-bahak. Dia lupa........ , itu adalah dulu, saat cintaku masih membara, sekarang apa lagi yg aku miliki?
Begitu seterusnya, setiap malam aku mendengar suara orang mengerang sampai anakku lahir. Hampir setiap hari dia selalu membeli barang-barang perlengkapan bayi, perlengkapan anak-anak dan buku-buku bacaan untuk anak-anak. Setumpuk demi setumpuk sampai kamarnya penuh sesak dengan barang-barang. Aku tahu dia mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak bergeming.
Terpaksa dia mengurung diri dalam kamar, malam hari dari kamarnya selalu terdengar suara pencetan keyboard komputer. Mungkin dia lagi tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya pikirku. Bagiku itu bukan lagi suatu masalah.
Suatu malam di musim semi, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit dan aku berteriak dengan suara yg keras. Dia segera berlari masuk ke kamar, sepertinya dia tidak pernah tidur. Saat inilah yg ditunggu-tunggu olehnya. Aku digendongnya dan berlari mencari taksi ke rumah sakit. Sepanjang jalan, dia mengenggam dengan erat tanganku, menghapus keringat dingin yg mengalir di dahiku. Sampai di rumah sakit, aku segera digendongnya menuju ruang bersalin. Di punggungnya yg kurus kering, aku terbaring dengan hangat dalam dekapannya. Sepanjang hidupku, siapa lagi yg mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia? Sampai dipintu ruang bersalin, dia memandangku dengan tatapan penuh kasih sayang saat aku didorong menuju persalinan, sambil menahan sakit aku masih sempat tersenyum padanya. Keluar dari ruang bersalin, dia memandang aku dan anakku dengan wajah penuh dengan air mata sambil tersenyum bahagia. Aku memegang tangannya, dia membalas memandangku dengan bahagia, tersenyum dan menangis lalu terjerambab ke lantai.
Aku berteriak histeris memanggil namanya.Setelah sadar, dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya. Aku pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air matapun untuknya, tetapi kenyataannya tidak demikian, aku tidak pernah merasakan sesakit saat ini. Kata dokter, kanker hatinya sudah sampai pada stadium mematikan, bisa bertahan sampai hari ini sudah merupakan sebuah mukjijat. Aku tanya kapankah kanker itu terdeteksi? 5 bulan yg lalukata dokter, bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan terburuk. Aku tidak lagi perduli dengan nasehat perawat, aku segera pulang ke rumah dan ke kamar ibu lalu menyalakan komputer.
Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa adanya, aku masih berpikir dia sedang bersandiwara! Sebuah surat yg sangat panjang ada di dalam komputer yg ditujukan kepada anak kami.
"Anakku, demi dirimu aku terus bertahan, sampai aku bisa melihatmu. Itu adalah harapanku. Aku tahu dalam hidup ini, kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan kekecewaan, sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu tetapi ayah tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Didalam komputer ini, ayah mencoba memberikan saran dan nasehat terhadap segala kemungkinan hidup yg akan kamu hadapi. Kamu boleh mempertimbangkan saran ayah.
"Anakku, selesai menulis surat ini, ayah merasa telah menemanimu hidup selama bertahun -tahun. Ayah sungguh bahagia. Cintailah ibumu, dia sungguh menderita, dia adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah orang yg paling ayah cintai"".Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK , SD , SMP, SMA sampai kuliah, semua tertulis dengan lengkap didalamnya.
Dia juga menulis sebuah surat untukku.""Kasihku, dapat menikahimu adalah hal yg paling bahagia aku rasakan dalam hidup ini. Maafkan salahku, maafkan aku tidak pernah memberitahumu tentang penyakitku. Aku tidak mau kesehatan bayi kita terganggu oleh karenanya. Kasihku, jika engkau menangis sewaktu membaca surat ini, berarti kau telah memaafkan aku. Terima kasih atas cintamu padaku selama ini. Hadiah-hadiah ini aku tidak punya kesempatan untuk memberikannya pada anak kita. Pada bungkusan hadiah tertulis semua tahun pemberian padanya""."
Kembali ke rumah sakit, suamiku masih terbaring lemah. Aku menggendong anak kami dan membaringkannya diatas dadanya sambil berkata: "Sayang, bukalah matamu sebentar saja, lihatlah anak kita. Aku mau dia merasakan kasih sayang dan hangatnya pelukan ayahnya". Dengan susah payah dia membuka matanya, tersenyum... ......... ..anak itu tetap dalam dekapannya, dengan tangannya yg mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan lemah.
Tidak tahu aku sudah menjepret berapa kali momen itu dengan kamera di tangan sambil berurai air mata........ ......... ...
Teman2 terkasih, aku sharing cerita ini kepada kalian, agar kita semua bisa menyimak pesan dari cerita ini.Mungkin saat ini air mata kalian sedang jatuh mengalir atau mata masih sembab sehabis menangis, ingatlah pesan dari cerita ini :
"Jika ada sesuatu yg mengganjal di hati diantara kalian yg saling mengasihi, sebaiknya utarakanlah jangan simpan didalam hati. Siapa tau apa yg akan terjadi besok? Ada sebuah pertanyaan: Jika kita tahu besok adalah hari kiamat, apakah kita akan menyesali semua hal yg telah kita perbuat? atau apa yg telah kita ucapkan? Sebelum segalanya menjadi terlambat, pikirlah matang2 semua yg akan kita lakukan sebelum kita menyesalinya seumur hidup.
Sumber : Milis Femina & Friend