Selasa, 21 Oktober 2008

Keping Masa Lalu

"Di antara kebimbangan status antara persahabatan yang kau tawarkan dengan hasrat untuk sering berdua denganmu juga rasa takut kelak tak bisa membahagiakanmu, Mawar hadir mengetuk hati. Dengan situasi seperti kamu saat itu, dia lebih terbuka, mau menemani naik gunung bersama teman-teman. Aku merasa lebih berarti. Sejak itu dilema antara kamu dan Mawar di satu sisi. Kamu yang kuharap tapi tak ada kepastian. Mawar begitu terbuka, apa adanya. Dengan latar belakang seperti kamu yang beda cuma kedua ortu masih ada. Sekedar ilustrasi siapa Mawar, supaya kamu tahu. Aku laki-laki normal, saat itu Mawar kehadiranya lebih realistis, daripada dirimu seperti angan-angan yang tak ada ujung pangkalnya, walau dengan berat hati. Benar katamu, selama ini kita hanya diam, now tetaplah menjadi bintang di langit." 03/09/2005 - 16.53.30 wib

Aku tak sedang membicarakan masa lalu, toh sudah berlalu. Aku tak ingin menyalahkan siapa-siapa. Aku belajar memaafkan semuanya, pun memaafkan ketidaktahuanku. Aku tahu, aku tak berhak menghakimi siapa-siapa.

Pelan tapi pasti, tabir yang menyelimuti kepedihan masa lalu itu terkuak, perlahan-lahan. Kegelapan yang mataku tak mampu melihat apa pun kecuali sesuatu yang serba tak pasti dan tak mampu kumengerti.

Sebuah catatan yang kutemukan saat membersihkan kamar, secarik kertas yang mampu memaksa anganku mengingat semua yang sudah berlalu, yang sudah coba aku lupakan.

Pedihnya dikhianati, dicampakkan, dibuang. Bukan pilihan. Aku sama sekali tak siap. Aku sama sekali tak menyangka, tak mengira. Berpikir pun tak pernah.

Cinta, kadang bisa sangat melukai. Harusnya sejak awal aku mengerti. Harusnya tak kuijinkan cinta itu hadir di hati. Bila ternyata hanya duri yang kau beri.

Sumber : Curhat seorang teman, tetap sabar dan tegar ya!

Minggu, 14 September 2008

HONESTY

Semalam di Metro TV ada acara Mario Teguh Golden Ways. Kalau tidak salah, beberapa waktu yang lalu Pak Mario Teguh ini juga pernah sahring di acara Forum Sinergi D5.
Bagaimanapun sharing, terkembali kpd kita. Jika menurut kita benar, mari kita ambil kihmahnya. Sebaliknya, ya kita tinggalkan ...

Mhn maaf tidak sempat membuat summary-nya sendiri, karena semalam hanya sempat mendengarkan, berikut kami teruskan news dari http://tukangobatbersahaja.wordpress.com/
Mhn maaf bila tidak berkenan ... (sekedar berbagi)

Acara yang mengambil tema Honesty sangat baik dipandu oleh Host baru Choky Sitohong *banyak pertanyaan smart darinya dan luwes membawakan acara yang super ini.Acara diawali dengan menyanyikan lagu Honesty yang dilantunkan oleh Syaharani..
Honesty is such a lonely word
Everyone is so untrue
Honesty is hardly ever heard
And mostly what I need from you

Saya ingin memberikan pointer sang saya terima langsung dari pak Mario Teguh.

Jangan menjadikan orang tidak baik menghalangi kita menjadi orang baik. karena setiap detik kita melangkah, kalau tidak mendekati kebaikan, kita menjauhi kebaikan.

Maju menjadi pribadi yang baik dalam kebaikan kita bisa damai. Mau tahu definisi kebahagiaan?
Kebahagiaan adalah kegembiraan dalam rasa damai yang penuh kesyukuran. Hanya orang baik yang bisa bahagia. Kalo dihilangkan salah satunya pasti itu bukan bahagia.

Definisi Keberhasilan adalah menjadi orang baik.
Orang baik yang miskin adalah orang kaya yang uangnya sedikit
Orang kaya karena tidak jujur adalah orang miskin yang uangnya banyak.

Mungkinkah kejujuran bisa menjadi buruk? Sebuah alat tidak sepenting dengan penggunaannya. Kejujuran adalah alat utuk mencapai hidup yang lebih baik. Cara yang salah dalam menyampaikan kejujuran membuat orang membenci kejujuran. Jadilah orang yang benar dan santun (penuh hormat). Kejujuran itu indah sekali.

Kalau Anda berlaku jujur lalu disiksa, perbaikilah cara Anda, tetapi jangan kurangi kejujuran Anda.

Ketika saya bertanya " Bagaimana caranya mengubah arus padahal kaki saya belum menyentuh dasar?", pak Mario dengan super menjawab kalo ingin menyentuh dasar maka tumbuhlah. Kita semua sedang tumbuh, maka tumbuhlah menjadi pribadi yang kuat. Satu-satunya cara untuk kaya adalah dengan memperkaya orang lain. Tumbuh membutuhkan ketulusan, kejujuran adalah jalan terbaik.

Ingatlah, Semua orang jujur., yang beda itu harganya. Ada orang yang Rp 10.000 atau Rp 100.000 sudah putus hehehe. eh ada uang, eh ada uang. *lucu sekali kalo mengingatnya*.
Tugas dari langit tidak turun kepada orang yang nilainya rendah. Jika Anda betul mencintai Tuhan, dan percaya jalan yang ditunjukkan adalah jalan kemuliaan kita. Maka kejujuran itu adalah akibat dari keimanan kita.

Diakhir acara pak Mario mengajak Marilah kita memulai berlaku baik. Semua kebaikan akan terkumpul menjadi mata rantai yang indah. Mulai hari ini tegaslah mengakhiri hal-hal yang menghalangi kita berlaku jujur.

Sumber : Wahyu SU dari milis koncokantor

TANGAN IBUKU

Beberapa tahun lalu, ketika ibu datang berkunjung, ia mengajak saya untuk berbelanja bersama karena ia membutuhkan sebuah gaun baru. Saya sebenarnya tak suka pergi belanja bersama orang lain. Dan saya bukanlah orang yang sabar. Tetapi walaupun demikian, kami berangkat juga ke pusat perbelanjaan.

Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun wanita, dan ibu saya mencoba gaun demi gaun dan mengembalikan semuanya. Seiring hari berlalu, saya mulai lelah dan ibu mulai frustasi. Akhirnya, pada toko terakhir yang kami kunjungi, ibu mencoba satu stel gaun biru yang cantik terdiri dari tiga helai. Pada blusnya terdapat sejenis tali di bagian tepi lehernya dan karena ketidaksabaran saya, maka untuk kali ini saya ikut masuk dan berdiri bersama ibu dalam ruang ganti pakaian. Saya melihat bagaimana ia mencoba pakaian tersebut, dan mencoba mengikat talinya dengan susah payah.

Ternyata tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi dan sebab itu ia tak dapat melakukannya. Seketika, ketidaksabaran saya digantikan oleh suatu rasa kasihan yang dalam kepadanya. Saya berbalik pergi dan coba menyembunyikan air mata yang mengalir tanpa saya sadari. Setelah tenang, saya kembali masuk ke kamar ganti dan mengikatkan tali gaun tersebut.

Pakaian itu begitu indah dan ia membelinya. Perjalanan belanja kami telah berakhir, tetapi kejadian tersebut terukir dan tidak dapat terlupakan dari ingatan saya. Sepanjang sisa hari itu pikiran saya tetap saja kembali pada saat berada di ruang ganti, dan terbayang tangan ibu yang sedang berusaha mengikat tali blusnya.

Kedua tangan yang penuh kasih itu yang pernah menyuapi saya, memandikan saya, memakaikan baju, membelai, memeluk dan terlebih dari semuanya, berdoa untuk saya. Sekarang tangan penuh kasih itu telah bergetar karena usia, dan kini tangan itu telah menyentuh hati saya dengan cara yang paling membekas dalam hati. Dan saya memberitahukan bahwa bagi saya, kedua tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di dunia ini. Saya bersyukur bahwa Tuhan telah membuat saya dapat melihat dengan mata saya yang baru, betapa bernilai dan berharganya kasih sayang yang penuh pengorbanan dari seorang ibu. Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu hari kelak tangan dan hati saya akan memiliki keindahannya sendiri.

Sumber : Zaim Saidi, Mengasah Hati

Sabar

"Sabar adalah bunga-bunga keimanan, keharumannya adalah kepasrahan dan meyakini hikmah di balik setiap masalah, kelopaknya adalah ketabahan, tangkainya adalah keteguhan jiwa, sabar itu indah. Semoga doa terindah senantiasa dilantunkan oleh makhluk terbaik untuk hamba-hambaNya yang taat menjadi doa yang diamini para malaikat sehingga menembus pori-pori langit dan bumi."

Untuk seorang sahabat, Diesty (bukan nama sebenarnya)

Saya mengenalnya beberapa tahun silam, saat kami masih kuliah di fakultas yang sama. Anaknya energik dan suka berorganisasi. Ulet dan dikaruniai otak cukup cemerlang. Saya kaget ketiga menginjak semester akhir ia menyodorkan sebuah undangan cantik kepada saya. "Datang ya," katanya sambil tersenyum manis. Saya ternganga? "Bener kamu akan menikah?" sambut saya tak bisa menyembunyikan keterkejutan. Dia mengangguk. Segera saya raih tubuh kurusnya. "Wah...selamat ya...selamat ya...semoga bahagia selamanya..."

bersambung

Jumat, 12 September 2008

MAAF BAPAK, IBU

Maaf Ibu, Bapak
Lebaran ini aku tak pulang
anakmu tak dapat menjengukmu
sekedar menabur bunga di atas pusaramu

Maafkan aku Ibu, Bapak
bukan aku tak lagi mencintaimu
bukan aku tak lagi merindukanmu
rindu itu tetap membuncah di hatiku
seperti cinta yang selama ini kau berikan

Biarlah doa yang selalu kupanjatkan
semoga Allah mengampuni segala kesalahan bapak dan ibu
semoga Allah menerima semua amal ibadah bapak dan ibu
semoga Allah memberikan tempat yang indah di surga-Nya

Masih jelas semua kenangan masa kecil itu
ketika peluh tak lagi kau hiraukan
sakit dan letih tak kau rasakan

Masih kukenang saat kanker menyapamu Bu
saat engkau hanya bisa terbaring
sementara kami masih sangat kecil
hingga akhirnya kau harus pergi untuk selamanya
tinggalkan kami yang belum siap untuk mandiri
hingga keadaan memaksa kami untuk berdiri
di atas kaki sendiri

Bapak
tak ada yang menyangsikan betapa besar cintamu pada kami
tanggung jawab yang kau tebus dengan segalanya
yang tak kan pernah sanggup kami membalasnya
kecuali dengan seuntai doa

Gema takbir yang menyapa
selalu mengingatkan aku pada saat kita masih bersama
suka cita menyambut datangnya hari kemenangan
yang kini hanya tinggal kenangan

semua kenangan itu akan selalu hidup di hati
meski tak ada seorangpun yang bisa mengerti
meski jarak memisahkan kita
dan tak diijinkannya aku menjengukmu
meski hanya sesaat
meski hanya sekejab
semua itu
tak akan sanggup menggerus
jalinan cinta yang tulus

Rabu, 10 September 2008

Hidup

suatu hari

Seorang teman datang kepada saya. Berurai air mata. Putus asa. Tak tahu harus bagaimana. Dia bercerita. Tanpa diminta.

Saya, terkaget-kaget. Tak tahu harus berkata apa. Tak tahu ternyata begitu berat deritanya. Saya hanya diam. Menggenggam tangannya erat. Sambil sesekali mengelus pundaknya. Saya hanya bisa mendengar semua ceritanya. karena mungkin, ia hanya ingin didengar. Agar berkurang beban di dadanya.

Namanya Rey. Cantik, berbalut busana muslimah. Hampir seusia saya. Punya satu putri usia tk. Cerita klasik. Suaminya tertarik pada wanita lain. Hubungan keduanya udah begitu jauh. Sang suami ijin ingin menikah lagi. Duh.

Ini kesalahan saya, tuturnya. Harusnya saya tak perlu cerita. Ketika menikah dulu, saya memang sudah tidak suci lagi. Dia adalah teman sekantor suami saya. daripada suami tahu dari orang lain, saya khawatir dia akan mengatakannya pada suami, maka saya pikir lebih baik saya berkata jujur pada suami. Itulah awalnya.

Seorang suami yang merasa dibohongi. Seorang suami yang belum siap terluka. Seorang suami yang ternyata teramat kecewa. Begitulah...

Saya tahu dia hanya ingin membalas dendam, karena saya sudah tak suci lagi, tuturnya pasrah. Drama menyakitkan telah dimulai. Sang suami yang tak bisa terima, memulai serangan.

Naik pesawat berempat. Saya sungguh tak mengerti. Sang suami duduk bersama wanita kedua, sementara teman saya berdua bersama putrinya. Bermesraanlah mereka berdua di depan anak beranak itu. Sampai di sini otak saya tak bisa mencerna.

Di rumah ibu mertua teman saya, yang nota bene adalah ibu kandung suaminya. Mereka sekamar...hah? Sampai di sini kembali otak saya tak bisa konek.

Seperti sebuah cerita telenovela, atau film india. Walah.....

Sang wanita kedua mengaku sangat mencintai suaminya...mengancam akan menyakiti diri kalau harus putus dengan suaminya...ha?

Sang suami tampaknya semakin terjerat, tak bisa lepas.....

Teman saya berasal dari keluarga amat berkecukupan, sementara suaminya orang biasa. Rumah, mobil dan berbagai fasilitas termasuk uang bulanan masih disokong orangtuav teman saya.

Suaminya selalu membandingkan bahwa wanita kedua jauh lebih baik dari istrinya...duh....

Teman saya bingung, mungkinkah rumah tangganya bisa diselamatkan? Atau diakhiri saja?

Biar impas, kamu harus ijinkan aku nikah lagi. Kan aku dulu belum mendapatkan yang suci, jadi aku boleh dong mendapatkannya sekarang...itu dalih suaminya yang tak bisa ia lawan....

Teman saya hanya bisa pasrah. Memang kenyataannya ia tak bisa memberikan kesucian yang dituntut suaminya itu. Tapi apakah itu berarti menjadikan suaminya berhak dan terlegitimasi untuk memperlakukannya demikian...saya tak tahu...

beberapa bulan kemudian

Alhamdulillah Mbak, sidang pertama berjalan lancar, semoga sidang berikutnya juga lancar. Sebuah sms mampir ke hp saya.

Saya bersyukur ia sudah bisa mengambil keputusan yang tepat. Suaminya bersikeras tak mau cerai, tapi tak juga berubah sikap dan perilakunya. Teman saya memutuskan untuk mengakhiri perlakuan semena-mena yang sekian tahun telah menyakiti jiwa dan perasaannya. Saya tahu ia telah melewati proses yang panjang hingga keputusan itu ia ambil. Saya kagum dan salut akan keberaniannya.

Dalam hati saya berdoa, semoga Allah memberikan kebaikan yang banyak. Saya tahu, ia telah bertobat dari masa lalunya yang kelam...

"Bila seorang hamba mendatangi Allah dengan berjalan, maka Allah akan mendatanginya dengan berlari..."

Sabarlah, saudariku, doaku menyertaimu... semoga kebahagiaan sejati kan kau jelang...
Ya Allah... sayangi hamba dan saudariku ini... Amin

Kamis, 29 Mei 2008

Mari Menjenguk Paijo

PAIJO duduk termenung di sebuah warung padang tempat biasanya ia mangkal, ingatannya kembali ke kampung halamannya, tempat bapak & emaknya membesarkannya, dan tempat ia bermain bersenda gurau dengan adik-adik kecilnya.

Lima tahun sudah ia tak menginjakkan kakinya di sana. ia hanya rutin saja mengirimi bapak & emaknya uang kebutuhan hidup keluarganya, juga untuk adik-adiknya bersekolah. Ia juga hanya mengetahui kabar keluarganya lewat telepon. Yang jelas bapak & emaknya sangat bangga kepada Paijo yang bisa membantu ekonomi keluarganya dan menaikkan derajat keluarga turut membantu menyekolahkan anak-anaknya sampai sarjana.

Paijo hanya bisa menghela nafas ... jauh dilubuk hatinya, sebenarnya ia sangat sedih karena orang tuanya tak tahu siapa sebenarnya dirinya dan apa bagaimana keadaaan batinnya di Jakarta saat ini. Orang tuanya hanya tahu Paijo bekerja sebagai orang kantoran, itu saja. padahal ...sejak kepindahannya ke Jakarta, Paijo tak pernah sembahyang di rumah maupun di kantor ia sibuk dengan urusan profesinya, dan hiruk pikuknya kehidupan metropolitan dan akhirnya ia menikmatinya, menjadi pekerja profesional di kawasan Jakarta Paijo hanya bisa menghela napasnya, seandainya orang tuanya tahu yang sebenarnya ... betapa hati mereka akan terpukul .....samar samar senja mulai temaram, adzan maghrib berkumandang, Paijo semakin sedih mendengar panggilan itu. lama rasanya wajahnya tak lagi basah oleh air wudhu ... dan kakinya mungkin sudah lupa bagaimana sejuknya lantai mushola. Nun jauh di lubuk hatinya, Paijo hanya bisa bergumam ... mungkin aku mulia di mata orang tuaku ..tapi .. aku begitu hina di hadapanMu ya Allah ...Aku akan kembali menjenguk Paijo-ku yang sesungguhnya.
***

Tulisan-nya masih morat-marit, dan mungkin jg analoginya ada yg nggak pas, tapi mudah2an bermanfaat.
Learning point :
kita mungkin juga adalah seorang Paijo .. bisa jadi orang mengagumi kita karena kepandaian otak kita, barangkali orang menaruh hormat dan segan karena kedudukan kita, mungkin juga orang menganggap tinggi ilmu kita, hingga menyandangkan gelar ilmuwan kepada kita ... tapi cobalah bercermin kepada diri nurani sendiri .. bisa jadikita tinggi, ulia, terhormat di hadapan orang lain, tapi dihadapan Al-Khaliq .. mungkin kita adalah orang yang begitu hina ...
saking banyaknya maksiat kita .. karena seringnya kita melupakan Allah dalam kehidupan kita ...kalau kita tinggi di hadapan manusia, tapi rendah di hadapan Al-Khaliq ..

lalu apa manfaatnya ?
bukankah kita hanya akan kembali kepada Al-Khaliq ?
apakah manusia bisa memberikan kita manfaat dan mudharat ?
nah ... mari merenung sejenak ..
tinggalkan mahkota kesombongan dan kemuliaan kita di depan
makhluk ..
bersimpuhlah mohon ampunan di sisi Allah ...
dan bersyukurlah Allah masih menutupi aib-aib kita ...

dan jika engkau telah selesai dari satu urusan, maka kerjakanlah urusan yang lain jika urusan rutinitas keseharian kita telah membuat hati kita keras, maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain, yaitu urusan akhirat kita ...

semoga, kita lebih baik dari persangkaan orang kepada kita
dan tidak lebih buruk dari apa yang mereka ketahui tentang
keburukan kita, satu lagi … sanggupkah kita lepas dari intaian musibah baik di laut, udara maupun darat ?
tidak ada waktu & alasan kita untuk menunda.
semoga Allah senantiasa menunjuki kita semua sehingga tetap
istiqomah di jalan kebenaran, khususnya bagi yg nulis e-mail ini. amiin.

Penulis : mas-ghenk (dari milis koncokantor)

Komentar (Moko) :
Ya, aku setuju dengan panjenengan Oom Sugeng. Terima kasih mengingatkan:).
Komentarku kali ini adalah begini, "Dalam tataran kemanusiaan, cara pandang kita terhadap orang lain adalah representasi dari keinginan kita dipandang oleh orang lain". Konkretnya sederhana, kalau kita memandang orang lain hanya dari penampilan atau atribut fisiknya, artinya kita ingin orang lain memandang hanya penampilan atau atribut fisik kita. Tidak perlu jauh mencari cntoh, aku sendiri tidak pernah menakjubkan diri pada jabatan seseorang, harta
seseorang atau baju seseorang, bahkan kepandaian seseorang pada satu hal. Karena aku tidak mau orang lain menakjubiku pada hal2 tersebut. Itu semua hanya semu kan:) Aku lebih memilih mengenali jati diri seseorang dari apa yang "dipancarkan matanya", karena mata adalah organ tubuh terjujur nomor 2 sesudah hati....
Peace...(gaya rocker:p) hihihihihhi

Perempuan

Dia diambil dari tulang rusuk lelaki. Jika Tuhan mempersatukan dua orang yang berlawanan sifatnya, maka itu akan menjadi saling melengkapi. Dialah penolongmu yang sepadan, bukan '*sparing partner*' yang sepadan.

Ketika pertandingan dimulai, dia tidak berhadapan denganmu untuk melawanmu. Tetapi dia akan berada bersamamu untuk berjaga-jaga di belakang saat engkau berada di depan atau lengah. Dialah yang akan menutupi kekuranganmu.

Dia ada untuk melengkapi yang tak ada dalam laki-laki, sperti: perasaan, emosi, kelemahlembutan, keluwesan, keindahan, kecantikan, rahim untuk melahirkan, mengurusi hal-hal sepele. Sehingga ketika laki-laki tidak mengerti hal-hal itu, dialah yang akan menyelesaikan bagiannya. Sehingga tanpa kau sadari ketika kau menjalankan sisa hidupmu... kau menjadi lebih kuat karena kehadirannya di sisimu.

Jika ada makhluk yang sangat bertolak belakang, kontras dengan lelaki, itulah perempuan. Jika ada makhluk yang sanggup menaklukkan hati hanya dengan sebuah senyuman, itulah perempuan. Ia tidak butuh argumentasi hebat dari seorang laki-laki. Tetapi ia butuh jaminan rasa aman darinya karena ia ada untuk dilindungi. Tidak hanya secara fisik tetapi juga emosi.

Ia tidak tertarik kepada fakta-fakta yang akurat, bahasa yang teliti dan logis yang bisa disampaikan secara detail dari seorang laki-laki, tetapi yang ia butuhkan adalah perhatiannya, kata-kata yang lembut, ungkapan-ungkapan sayang yang sepele. Namun baginya sangat berarti...membuatnya aman di sisimu.

Batu yang keras dapat terkikis habis oleh air yang luwes, sifat laki-laki yang keras ternetralisir oleh kelembutan perempuan. Rumput yang lembut tidak mudah tumbang oleh badai dibandingkan dengan pohon yang besar dan rindang. Seperti juga di dalam kelembutannya di situlah terletak kekuatan dan ketahanan yang membuatnya bisa bertahan dalam situasi apapun. Ia lembut bukan untuk diinjak, rumput yang lembut akan dinaungi oleh pohon yang kokoh dan rindang.

Jika lelaki berpikir tentang perasaan wanita, itu sepersekian dari hidupnya. Tetapi jika perempuan berpikir tentang perasaan lelaki, itu akan menyita seluruh hidupnya. Karena perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, karena perempuan adalah bagian dari laki-laki. Apa yang menjadi bagian dari hidupnya, akan menjadi bagian dari hidupmu. Keluarganya akan menjadi keluarga barumu, keluargamu pun akan menjadi keluarganya juga. Sekalipun ia jauh dari keluarganya, namun ikatan emosi kepada keluarganya tetap ada karena ia lahir dan dibesarkan di sana. Karena mereka, ia menjadi seperti sekarang ini.

Perasaannya terhadap keluarganya, akan menjadi bagian dari perasaanmu juga. Karena kau dan dia adalah satu. Dia adalah dirimu yang tak ada sebelumnya. Ketika pertandingan dimulai, pastikan dia ada di bagian lapangan yang sama denganmu.

*****

*Perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki*

*Dekat dengan lengan untuk dilindungi*

*Dekat dengan hati untuk dicintai*

Senin, 26 Mei 2008

Mandikan aku, Bunda

Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas : meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ''Why not the best,'' katanya selalu, mengutip kata-kata seorang mantan presiden Amerika.

Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran. Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ''selevel'' yaitu sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suaminya meraih gelar PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ''alif'' dan huruf terakhir ''ya'', jadilah nama yang enak didengar, Alifya. Saya takberani mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir.

Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dandari satu negara ke negara lain.

Setulusnya saya pernah bertanya, ''Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? ''

Dengan sigap Rani menjawab, ''Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!''

Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadwal Alif lewattelepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak.

''Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.'' Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya. Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertiananaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini ''memahami'' orang tuanya. Buktinya, kataRani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekalingambek. Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ''malaikat kecilku''. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.

Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter.

''Alif ingin Bunda mandikan,'' ujarnya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan.

''Bunda, mandikan aku!'' kian lama suara Alif penuh tekanan.

Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter.

''Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.''

Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah swt sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku.

''Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,'' ucapnya lirih, di tengah jamaah yangsunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.

Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ''Ini sudahtakdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?'' Saya diam saja. Rasanya Rani memang takperlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. ''Ini konsekuensi sebuah pilihan,'' lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.

Tiba-tiba Rani berlutut. ''Aku ibunyaaa!'' serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak. ''Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..'' Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.

Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong.Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat. Sering kali orang sibuk 'di luaran', asyik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang-orang di dekatnya yang disayanginya. Akan masih ada waktu 'nanti' buat mereka jadi abaikan saja dulu.

Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada. Pelajaran yang sangat menyedihkan. Semoga yang membacanya bisa mengambil makna yang terkandung dalam kisah ini.

Catch the chance, keep and manage it well

Catatan:
Sahabatku tercinta…
Saya membaca artikel di atas pada sebuah milis (saya hanya melakukan edit minimal), mohon maaf tidak tahu siapa penulisnya, siapapun penulisnya, semoga Allah memberi karunia padanya, karena saya yakin, tulisan ini pasti telah banyak menyentuh hati pembacanya.

Salam sayang

Harga Sebuah Kasih Sayang

Gaji Papa Berapa?

Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah
perusahaan swasta terkemuka di
Jakarta , tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak
seperti biasanya, Sarah,
putra pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD
membukakan pintu untuknya.
Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

"Kok, belum tidur ?" sapa Andrew sambil mencium
anaknya.

Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan
baru terjaga ketika
ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga,
Sarah menjawab, "Aku
nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih
gaji Papa ?"

"Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang
lagi, ya ?"

"Ah, enggak. Pengen tahu aja" ucap Sarah singkat.

"Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa
bekerja sekitar 10 jam dan
dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung
22 hari kerja. Sabtu
dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur.
Jadi, gaji Papa dalam satu
bulan berapa, hayo ?"

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja
belajar sementara
Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika
Andrew beranjak
menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari
mengikutinya. "Kalo satu
hari Papa dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti
satu jam Papa digaji
Rp.40.000,- dong" katanya.

"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur"
perintah Andrew

Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan
Papanya berganti pakaian,
Sarah kembali bertanya, "Papa, aku boleh pinjam uang
Rp. 5.000,- enggak ?"

"Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta
uang malam-malam begini? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah".

"Tapi Papa..."

Kesabaran Andrew pun habis. "Papa bilang tidur !"
hardiknya mengejutkan Sarah. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun
menengok Sarah di
kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur.
Sarah didapati sedang
terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,-
di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu,
Andrew berkata,
"Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat
apa sih minta uang
malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan
bisa. Jangankan Rp.5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih" jawab Andrew

"Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti
aku kembalikan kalau
sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu
ini".

"lya, iya, tapi buat apa ?" tanya Andrew lembut.

"Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main
ular tangga. Tiga
puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa
itu sangat berharga.
Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku,
hanya ada Rp. 15.000,-
tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp.40.000,- maka setengah jam
aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku
kurang Rp. 5.000,-
makanya aku mau pinjam dari Papa" kata Sarah polos.

Andrew pun terdiam. ia terdiam kehilangan kata-kata.
Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan
haru. Dia baru
menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan
selama ini, tidak cukup
untuk "membeli" kebahagiaan anaknya.