Minggu, 14 September 2008

TANGAN IBUKU

Beberapa tahun lalu, ketika ibu datang berkunjung, ia mengajak saya untuk berbelanja bersama karena ia membutuhkan sebuah gaun baru. Saya sebenarnya tak suka pergi belanja bersama orang lain. Dan saya bukanlah orang yang sabar. Tetapi walaupun demikian, kami berangkat juga ke pusat perbelanjaan.

Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun wanita, dan ibu saya mencoba gaun demi gaun dan mengembalikan semuanya. Seiring hari berlalu, saya mulai lelah dan ibu mulai frustasi. Akhirnya, pada toko terakhir yang kami kunjungi, ibu mencoba satu stel gaun biru yang cantik terdiri dari tiga helai. Pada blusnya terdapat sejenis tali di bagian tepi lehernya dan karena ketidaksabaran saya, maka untuk kali ini saya ikut masuk dan berdiri bersama ibu dalam ruang ganti pakaian. Saya melihat bagaimana ia mencoba pakaian tersebut, dan mencoba mengikat talinya dengan susah payah.

Ternyata tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi dan sebab itu ia tak dapat melakukannya. Seketika, ketidaksabaran saya digantikan oleh suatu rasa kasihan yang dalam kepadanya. Saya berbalik pergi dan coba menyembunyikan air mata yang mengalir tanpa saya sadari. Setelah tenang, saya kembali masuk ke kamar ganti dan mengikatkan tali gaun tersebut.

Pakaian itu begitu indah dan ia membelinya. Perjalanan belanja kami telah berakhir, tetapi kejadian tersebut terukir dan tidak dapat terlupakan dari ingatan saya. Sepanjang sisa hari itu pikiran saya tetap saja kembali pada saat berada di ruang ganti, dan terbayang tangan ibu yang sedang berusaha mengikat tali blusnya.

Kedua tangan yang penuh kasih itu yang pernah menyuapi saya, memandikan saya, memakaikan baju, membelai, memeluk dan terlebih dari semuanya, berdoa untuk saya. Sekarang tangan penuh kasih itu telah bergetar karena usia, dan kini tangan itu telah menyentuh hati saya dengan cara yang paling membekas dalam hati. Dan saya memberitahukan bahwa bagi saya, kedua tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di dunia ini. Saya bersyukur bahwa Tuhan telah membuat saya dapat melihat dengan mata saya yang baru, betapa bernilai dan berharganya kasih sayang yang penuh pengorbanan dari seorang ibu. Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu hari kelak tangan dan hati saya akan memiliki keindahannya sendiri.

Sumber : Zaim Saidi, Mengasah Hati

Tidak ada komentar: