Rabu, 10 September 2008

Hidup

suatu hari

Seorang teman datang kepada saya. Berurai air mata. Putus asa. Tak tahu harus bagaimana. Dia bercerita. Tanpa diminta.

Saya, terkaget-kaget. Tak tahu harus berkata apa. Tak tahu ternyata begitu berat deritanya. Saya hanya diam. Menggenggam tangannya erat. Sambil sesekali mengelus pundaknya. Saya hanya bisa mendengar semua ceritanya. karena mungkin, ia hanya ingin didengar. Agar berkurang beban di dadanya.

Namanya Rey. Cantik, berbalut busana muslimah. Hampir seusia saya. Punya satu putri usia tk. Cerita klasik. Suaminya tertarik pada wanita lain. Hubungan keduanya udah begitu jauh. Sang suami ijin ingin menikah lagi. Duh.

Ini kesalahan saya, tuturnya. Harusnya saya tak perlu cerita. Ketika menikah dulu, saya memang sudah tidak suci lagi. Dia adalah teman sekantor suami saya. daripada suami tahu dari orang lain, saya khawatir dia akan mengatakannya pada suami, maka saya pikir lebih baik saya berkata jujur pada suami. Itulah awalnya.

Seorang suami yang merasa dibohongi. Seorang suami yang belum siap terluka. Seorang suami yang ternyata teramat kecewa. Begitulah...

Saya tahu dia hanya ingin membalas dendam, karena saya sudah tak suci lagi, tuturnya pasrah. Drama menyakitkan telah dimulai. Sang suami yang tak bisa terima, memulai serangan.

Naik pesawat berempat. Saya sungguh tak mengerti. Sang suami duduk bersama wanita kedua, sementara teman saya berdua bersama putrinya. Bermesraanlah mereka berdua di depan anak beranak itu. Sampai di sini otak saya tak bisa mencerna.

Di rumah ibu mertua teman saya, yang nota bene adalah ibu kandung suaminya. Mereka sekamar...hah? Sampai di sini kembali otak saya tak bisa konek.

Seperti sebuah cerita telenovela, atau film india. Walah.....

Sang wanita kedua mengaku sangat mencintai suaminya...mengancam akan menyakiti diri kalau harus putus dengan suaminya...ha?

Sang suami tampaknya semakin terjerat, tak bisa lepas.....

Teman saya berasal dari keluarga amat berkecukupan, sementara suaminya orang biasa. Rumah, mobil dan berbagai fasilitas termasuk uang bulanan masih disokong orangtuav teman saya.

Suaminya selalu membandingkan bahwa wanita kedua jauh lebih baik dari istrinya...duh....

Teman saya bingung, mungkinkah rumah tangganya bisa diselamatkan? Atau diakhiri saja?

Biar impas, kamu harus ijinkan aku nikah lagi. Kan aku dulu belum mendapatkan yang suci, jadi aku boleh dong mendapatkannya sekarang...itu dalih suaminya yang tak bisa ia lawan....

Teman saya hanya bisa pasrah. Memang kenyataannya ia tak bisa memberikan kesucian yang dituntut suaminya itu. Tapi apakah itu berarti menjadikan suaminya berhak dan terlegitimasi untuk memperlakukannya demikian...saya tak tahu...

beberapa bulan kemudian

Alhamdulillah Mbak, sidang pertama berjalan lancar, semoga sidang berikutnya juga lancar. Sebuah sms mampir ke hp saya.

Saya bersyukur ia sudah bisa mengambil keputusan yang tepat. Suaminya bersikeras tak mau cerai, tapi tak juga berubah sikap dan perilakunya. Teman saya memutuskan untuk mengakhiri perlakuan semena-mena yang sekian tahun telah menyakiti jiwa dan perasaannya. Saya tahu ia telah melewati proses yang panjang hingga keputusan itu ia ambil. Saya kagum dan salut akan keberaniannya.

Dalam hati saya berdoa, semoga Allah memberikan kebaikan yang banyak. Saya tahu, ia telah bertobat dari masa lalunya yang kelam...

"Bila seorang hamba mendatangi Allah dengan berjalan, maka Allah akan mendatanginya dengan berlari..."

Sabarlah, saudariku, doaku menyertaimu... semoga kebahagiaan sejati kan kau jelang...
Ya Allah... sayangi hamba dan saudariku ini... Amin

Tidak ada komentar: