Semalam di Metro TV ada acara Mario Teguh Golden Ways. Kalau tidak salah, beberapa waktu yang lalu Pak Mario Teguh ini juga pernah sahring di acara Forum Sinergi D5.
Bagaimanapun sharing, terkembali kpd kita. Jika menurut kita benar, mari kita ambil kihmahnya. Sebaliknya, ya kita tinggalkan ...
Mhn maaf tidak sempat membuat summary-nya sendiri, karena semalam hanya sempat mendengarkan, berikut kami teruskan news dari http://tukangobatbersahaja.wordpress.com/
Mhn maaf bila tidak berkenan ... (sekedar berbagi)
Acara yang mengambil tema Honesty sangat baik dipandu oleh Host baru Choky Sitohong *banyak pertanyaan smart darinya dan luwes membawakan acara yang super ini.Acara diawali dengan menyanyikan lagu Honesty yang dilantunkan oleh Syaharani..
Honesty is such a lonely word
Everyone is so untrue
Honesty is hardly ever heard
And mostly what I need from you
Saya ingin memberikan pointer sang saya terima langsung dari pak Mario Teguh.
Jangan menjadikan orang tidak baik menghalangi kita menjadi orang baik. karena setiap detik kita melangkah, kalau tidak mendekati kebaikan, kita menjauhi kebaikan.
Maju menjadi pribadi yang baik dalam kebaikan kita bisa damai. Mau tahu definisi kebahagiaan?
Kebahagiaan adalah kegembiraan dalam rasa damai yang penuh kesyukuran. Hanya orang baik yang bisa bahagia. Kalo dihilangkan salah satunya pasti itu bukan bahagia.
Definisi Keberhasilan adalah menjadi orang baik.
Orang baik yang miskin adalah orang kaya yang uangnya sedikit
Orang kaya karena tidak jujur adalah orang miskin yang uangnya banyak.
Mungkinkah kejujuran bisa menjadi buruk? Sebuah alat tidak sepenting dengan penggunaannya. Kejujuran adalah alat utuk mencapai hidup yang lebih baik. Cara yang salah dalam menyampaikan kejujuran membuat orang membenci kejujuran. Jadilah orang yang benar dan santun (penuh hormat). Kejujuran itu indah sekali.
Kalau Anda berlaku jujur lalu disiksa, perbaikilah cara Anda, tetapi jangan kurangi kejujuran Anda.
Ketika saya bertanya " Bagaimana caranya mengubah arus padahal kaki saya belum menyentuh dasar?", pak Mario dengan super menjawab kalo ingin menyentuh dasar maka tumbuhlah. Kita semua sedang tumbuh, maka tumbuhlah menjadi pribadi yang kuat. Satu-satunya cara untuk kaya adalah dengan memperkaya orang lain. Tumbuh membutuhkan ketulusan, kejujuran adalah jalan terbaik.
Ingatlah, Semua orang jujur., yang beda itu harganya. Ada orang yang Rp 10.000 atau Rp 100.000 sudah putus hehehe. eh ada uang, eh ada uang. *lucu sekali kalo mengingatnya*.
Tugas dari langit tidak turun kepada orang yang nilainya rendah. Jika Anda betul mencintai Tuhan, dan percaya jalan yang ditunjukkan adalah jalan kemuliaan kita. Maka kejujuran itu adalah akibat dari keimanan kita.
Diakhir acara pak Mario mengajak Marilah kita memulai berlaku baik. Semua kebaikan akan terkumpul menjadi mata rantai yang indah. Mulai hari ini tegaslah mengakhiri hal-hal yang menghalangi kita berlaku jujur.
Sumber : Wahyu SU dari milis koncokantor
Minggu, 14 September 2008
TANGAN IBUKU
Beberapa tahun lalu, ketika ibu datang berkunjung, ia mengajak saya untuk berbelanja bersama karena ia membutuhkan sebuah gaun baru. Saya sebenarnya tak suka pergi belanja bersama orang lain. Dan saya bukanlah orang yang sabar. Tetapi walaupun demikian, kami berangkat juga ke pusat perbelanjaan.
Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun wanita, dan ibu saya mencoba gaun demi gaun dan mengembalikan semuanya. Seiring hari berlalu, saya mulai lelah dan ibu mulai frustasi. Akhirnya, pada toko terakhir yang kami kunjungi, ibu mencoba satu stel gaun biru yang cantik terdiri dari tiga helai. Pada blusnya terdapat sejenis tali di bagian tepi lehernya dan karena ketidaksabaran saya, maka untuk kali ini saya ikut masuk dan berdiri bersama ibu dalam ruang ganti pakaian. Saya melihat bagaimana ia mencoba pakaian tersebut, dan mencoba mengikat talinya dengan susah payah.
Ternyata tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi dan sebab itu ia tak dapat melakukannya. Seketika, ketidaksabaran saya digantikan oleh suatu rasa kasihan yang dalam kepadanya. Saya berbalik pergi dan coba menyembunyikan air mata yang mengalir tanpa saya sadari. Setelah tenang, saya kembali masuk ke kamar ganti dan mengikatkan tali gaun tersebut.
Pakaian itu begitu indah dan ia membelinya. Perjalanan belanja kami telah berakhir, tetapi kejadian tersebut terukir dan tidak dapat terlupakan dari ingatan saya. Sepanjang sisa hari itu pikiran saya tetap saja kembali pada saat berada di ruang ganti, dan terbayang tangan ibu yang sedang berusaha mengikat tali blusnya.
Kedua tangan yang penuh kasih itu yang pernah menyuapi saya, memandikan saya, memakaikan baju, membelai, memeluk dan terlebih dari semuanya, berdoa untuk saya. Sekarang tangan penuh kasih itu telah bergetar karena usia, dan kini tangan itu telah menyentuh hati saya dengan cara yang paling membekas dalam hati. Dan saya memberitahukan bahwa bagi saya, kedua tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di dunia ini. Saya bersyukur bahwa Tuhan telah membuat saya dapat melihat dengan mata saya yang baru, betapa bernilai dan berharganya kasih sayang yang penuh pengorbanan dari seorang ibu. Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu hari kelak tangan dan hati saya akan memiliki keindahannya sendiri.
Sumber : Zaim Saidi, Mengasah Hati
Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun wanita, dan ibu saya mencoba gaun demi gaun dan mengembalikan semuanya. Seiring hari berlalu, saya mulai lelah dan ibu mulai frustasi. Akhirnya, pada toko terakhir yang kami kunjungi, ibu mencoba satu stel gaun biru yang cantik terdiri dari tiga helai. Pada blusnya terdapat sejenis tali di bagian tepi lehernya dan karena ketidaksabaran saya, maka untuk kali ini saya ikut masuk dan berdiri bersama ibu dalam ruang ganti pakaian. Saya melihat bagaimana ia mencoba pakaian tersebut, dan mencoba mengikat talinya dengan susah payah.
Ternyata tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi dan sebab itu ia tak dapat melakukannya. Seketika, ketidaksabaran saya digantikan oleh suatu rasa kasihan yang dalam kepadanya. Saya berbalik pergi dan coba menyembunyikan air mata yang mengalir tanpa saya sadari. Setelah tenang, saya kembali masuk ke kamar ganti dan mengikatkan tali gaun tersebut.
Pakaian itu begitu indah dan ia membelinya. Perjalanan belanja kami telah berakhir, tetapi kejadian tersebut terukir dan tidak dapat terlupakan dari ingatan saya. Sepanjang sisa hari itu pikiran saya tetap saja kembali pada saat berada di ruang ganti, dan terbayang tangan ibu yang sedang berusaha mengikat tali blusnya.
Kedua tangan yang penuh kasih itu yang pernah menyuapi saya, memandikan saya, memakaikan baju, membelai, memeluk dan terlebih dari semuanya, berdoa untuk saya. Sekarang tangan penuh kasih itu telah bergetar karena usia, dan kini tangan itu telah menyentuh hati saya dengan cara yang paling membekas dalam hati. Dan saya memberitahukan bahwa bagi saya, kedua tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di dunia ini. Saya bersyukur bahwa Tuhan telah membuat saya dapat melihat dengan mata saya yang baru, betapa bernilai dan berharganya kasih sayang yang penuh pengorbanan dari seorang ibu. Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu hari kelak tangan dan hati saya akan memiliki keindahannya sendiri.
Sumber : Zaim Saidi, Mengasah Hati
Sabar
"Sabar adalah bunga-bunga keimanan, keharumannya adalah kepasrahan dan meyakini hikmah di balik setiap masalah, kelopaknya adalah ketabahan, tangkainya adalah keteguhan jiwa, sabar itu indah. Semoga doa terindah senantiasa dilantunkan oleh makhluk terbaik untuk hamba-hambaNya yang taat menjadi doa yang diamini para malaikat sehingga menembus pori-pori langit dan bumi."
Untuk seorang sahabat, Diesty (bukan nama sebenarnya)
Saya mengenalnya beberapa tahun silam, saat kami masih kuliah di fakultas yang sama. Anaknya energik dan suka berorganisasi. Ulet dan dikaruniai otak cukup cemerlang. Saya kaget ketiga menginjak semester akhir ia menyodorkan sebuah undangan cantik kepada saya. "Datang ya," katanya sambil tersenyum manis. Saya ternganga? "Bener kamu akan menikah?" sambut saya tak bisa menyembunyikan keterkejutan. Dia mengangguk. Segera saya raih tubuh kurusnya. "Wah...selamat ya...selamat ya...semoga bahagia selamanya..."
bersambung
Untuk seorang sahabat, Diesty (bukan nama sebenarnya)
Saya mengenalnya beberapa tahun silam, saat kami masih kuliah di fakultas yang sama. Anaknya energik dan suka berorganisasi. Ulet dan dikaruniai otak cukup cemerlang. Saya kaget ketiga menginjak semester akhir ia menyodorkan sebuah undangan cantik kepada saya. "Datang ya," katanya sambil tersenyum manis. Saya ternganga? "Bener kamu akan menikah?" sambut saya tak bisa menyembunyikan keterkejutan. Dia mengangguk. Segera saya raih tubuh kurusnya. "Wah...selamat ya...selamat ya...semoga bahagia selamanya..."
bersambung
Jumat, 12 September 2008
MAAF BAPAK, IBU
Maaf Ibu, Bapak
Lebaran ini aku tak pulang
anakmu tak dapat menjengukmu
sekedar menabur bunga di atas pusaramu
Maafkan aku Ibu, Bapak
bukan aku tak lagi mencintaimu
bukan aku tak lagi merindukanmu
rindu itu tetap membuncah di hatiku
seperti cinta yang selama ini kau berikan
Biarlah doa yang selalu kupanjatkan
semoga Allah mengampuni segala kesalahan bapak dan ibu
semoga Allah menerima semua amal ibadah bapak dan ibu
semoga Allah memberikan tempat yang indah di surga-Nya
Masih jelas semua kenangan masa kecil itu
ketika peluh tak lagi kau hiraukan
sakit dan letih tak kau rasakan
Masih kukenang saat kanker menyapamu Bu
saat engkau hanya bisa terbaring
sementara kami masih sangat kecil
hingga akhirnya kau harus pergi untuk selamanya
tinggalkan kami yang belum siap untuk mandiri
hingga keadaan memaksa kami untuk berdiri
di atas kaki sendiri
Bapak
tak ada yang menyangsikan betapa besar cintamu pada kami
tanggung jawab yang kau tebus dengan segalanya
yang tak kan pernah sanggup kami membalasnya
kecuali dengan seuntai doa
Gema takbir yang menyapa
selalu mengingatkan aku pada saat kita masih bersama
suka cita menyambut datangnya hari kemenangan
yang kini hanya tinggal kenangan
semua kenangan itu akan selalu hidup di hati
meski tak ada seorangpun yang bisa mengerti
meski jarak memisahkan kita
dan tak diijinkannya aku menjengukmu
meski hanya sesaat
meski hanya sekejab
semua itu
tak akan sanggup menggerus
jalinan cinta yang tulus
Lebaran ini aku tak pulang
anakmu tak dapat menjengukmu
sekedar menabur bunga di atas pusaramu
Maafkan aku Ibu, Bapak
bukan aku tak lagi mencintaimu
bukan aku tak lagi merindukanmu
rindu itu tetap membuncah di hatiku
seperti cinta yang selama ini kau berikan
Biarlah doa yang selalu kupanjatkan
semoga Allah mengampuni segala kesalahan bapak dan ibu
semoga Allah menerima semua amal ibadah bapak dan ibu
semoga Allah memberikan tempat yang indah di surga-Nya
Masih jelas semua kenangan masa kecil itu
ketika peluh tak lagi kau hiraukan
sakit dan letih tak kau rasakan
Masih kukenang saat kanker menyapamu Bu
saat engkau hanya bisa terbaring
sementara kami masih sangat kecil
hingga akhirnya kau harus pergi untuk selamanya
tinggalkan kami yang belum siap untuk mandiri
hingga keadaan memaksa kami untuk berdiri
di atas kaki sendiri
Bapak
tak ada yang menyangsikan betapa besar cintamu pada kami
tanggung jawab yang kau tebus dengan segalanya
yang tak kan pernah sanggup kami membalasnya
kecuali dengan seuntai doa
Gema takbir yang menyapa
selalu mengingatkan aku pada saat kita masih bersama
suka cita menyambut datangnya hari kemenangan
yang kini hanya tinggal kenangan
semua kenangan itu akan selalu hidup di hati
meski tak ada seorangpun yang bisa mengerti
meski jarak memisahkan kita
dan tak diijinkannya aku menjengukmu
meski hanya sesaat
meski hanya sekejab
semua itu
tak akan sanggup menggerus
jalinan cinta yang tulus
Rabu, 10 September 2008
Hidup
suatu hari
Seorang teman datang kepada saya. Berurai air mata. Putus asa. Tak tahu harus bagaimana. Dia bercerita. Tanpa diminta.
Saya, terkaget-kaget. Tak tahu harus berkata apa. Tak tahu ternyata begitu berat deritanya. Saya hanya diam. Menggenggam tangannya erat. Sambil sesekali mengelus pundaknya. Saya hanya bisa mendengar semua ceritanya. karena mungkin, ia hanya ingin didengar. Agar berkurang beban di dadanya.
Namanya Rey. Cantik, berbalut busana muslimah. Hampir seusia saya. Punya satu putri usia tk. Cerita klasik. Suaminya tertarik pada wanita lain. Hubungan keduanya udah begitu jauh. Sang suami ijin ingin menikah lagi. Duh.
Ini kesalahan saya, tuturnya. Harusnya saya tak perlu cerita. Ketika menikah dulu, saya memang sudah tidak suci lagi. Dia adalah teman sekantor suami saya. daripada suami tahu dari orang lain, saya khawatir dia akan mengatakannya pada suami, maka saya pikir lebih baik saya berkata jujur pada suami. Itulah awalnya.
Seorang suami yang merasa dibohongi. Seorang suami yang belum siap terluka. Seorang suami yang ternyata teramat kecewa. Begitulah...
Saya tahu dia hanya ingin membalas dendam, karena saya sudah tak suci lagi, tuturnya pasrah. Drama menyakitkan telah dimulai. Sang suami yang tak bisa terima, memulai serangan.
Naik pesawat berempat. Saya sungguh tak mengerti. Sang suami duduk bersama wanita kedua, sementara teman saya berdua bersama putrinya. Bermesraanlah mereka berdua di depan anak beranak itu. Sampai di sini otak saya tak bisa mencerna.
Di rumah ibu mertua teman saya, yang nota bene adalah ibu kandung suaminya. Mereka sekamar...hah? Sampai di sini kembali otak saya tak bisa konek.
Seperti sebuah cerita telenovela, atau film india. Walah.....
Sang wanita kedua mengaku sangat mencintai suaminya...mengancam akan menyakiti diri kalau harus putus dengan suaminya...ha?
Sang suami tampaknya semakin terjerat, tak bisa lepas.....
Teman saya berasal dari keluarga amat berkecukupan, sementara suaminya orang biasa. Rumah, mobil dan berbagai fasilitas termasuk uang bulanan masih disokong orangtuav teman saya.
Suaminya selalu membandingkan bahwa wanita kedua jauh lebih baik dari istrinya...duh....
Teman saya bingung, mungkinkah rumah tangganya bisa diselamatkan? Atau diakhiri saja?
Biar impas, kamu harus ijinkan aku nikah lagi. Kan aku dulu belum mendapatkan yang suci, jadi aku boleh dong mendapatkannya sekarang...itu dalih suaminya yang tak bisa ia lawan....
Teman saya hanya bisa pasrah. Memang kenyataannya ia tak bisa memberikan kesucian yang dituntut suaminya itu. Tapi apakah itu berarti menjadikan suaminya berhak dan terlegitimasi untuk memperlakukannya demikian...saya tak tahu...
beberapa bulan kemudian
Alhamdulillah Mbak, sidang pertama berjalan lancar, semoga sidang berikutnya juga lancar. Sebuah sms mampir ke hp saya.
Saya bersyukur ia sudah bisa mengambil keputusan yang tepat. Suaminya bersikeras tak mau cerai, tapi tak juga berubah sikap dan perilakunya. Teman saya memutuskan untuk mengakhiri perlakuan semena-mena yang sekian tahun telah menyakiti jiwa dan perasaannya. Saya tahu ia telah melewati proses yang panjang hingga keputusan itu ia ambil. Saya kagum dan salut akan keberaniannya.
Dalam hati saya berdoa, semoga Allah memberikan kebaikan yang banyak. Saya tahu, ia telah bertobat dari masa lalunya yang kelam...
"Bila seorang hamba mendatangi Allah dengan berjalan, maka Allah akan mendatanginya dengan berlari..."
Sabarlah, saudariku, doaku menyertaimu... semoga kebahagiaan sejati kan kau jelang...
Ya Allah... sayangi hamba dan saudariku ini... Amin
Seorang teman datang kepada saya. Berurai air mata. Putus asa. Tak tahu harus bagaimana. Dia bercerita. Tanpa diminta.
Saya, terkaget-kaget. Tak tahu harus berkata apa. Tak tahu ternyata begitu berat deritanya. Saya hanya diam. Menggenggam tangannya erat. Sambil sesekali mengelus pundaknya. Saya hanya bisa mendengar semua ceritanya. karena mungkin, ia hanya ingin didengar. Agar berkurang beban di dadanya.
Namanya Rey. Cantik, berbalut busana muslimah. Hampir seusia saya. Punya satu putri usia tk. Cerita klasik. Suaminya tertarik pada wanita lain. Hubungan keduanya udah begitu jauh. Sang suami ijin ingin menikah lagi. Duh.
Ini kesalahan saya, tuturnya. Harusnya saya tak perlu cerita. Ketika menikah dulu, saya memang sudah tidak suci lagi. Dia adalah teman sekantor suami saya. daripada suami tahu dari orang lain, saya khawatir dia akan mengatakannya pada suami, maka saya pikir lebih baik saya berkata jujur pada suami. Itulah awalnya.
Seorang suami yang merasa dibohongi. Seorang suami yang belum siap terluka. Seorang suami yang ternyata teramat kecewa. Begitulah...
Saya tahu dia hanya ingin membalas dendam, karena saya sudah tak suci lagi, tuturnya pasrah. Drama menyakitkan telah dimulai. Sang suami yang tak bisa terima, memulai serangan.
Naik pesawat berempat. Saya sungguh tak mengerti. Sang suami duduk bersama wanita kedua, sementara teman saya berdua bersama putrinya. Bermesraanlah mereka berdua di depan anak beranak itu. Sampai di sini otak saya tak bisa mencerna.
Di rumah ibu mertua teman saya, yang nota bene adalah ibu kandung suaminya. Mereka sekamar...hah? Sampai di sini kembali otak saya tak bisa konek.
Seperti sebuah cerita telenovela, atau film india. Walah.....
Sang wanita kedua mengaku sangat mencintai suaminya...mengancam akan menyakiti diri kalau harus putus dengan suaminya...ha?
Sang suami tampaknya semakin terjerat, tak bisa lepas.....
Teman saya berasal dari keluarga amat berkecukupan, sementara suaminya orang biasa. Rumah, mobil dan berbagai fasilitas termasuk uang bulanan masih disokong orangtuav teman saya.
Suaminya selalu membandingkan bahwa wanita kedua jauh lebih baik dari istrinya...duh....
Teman saya bingung, mungkinkah rumah tangganya bisa diselamatkan? Atau diakhiri saja?
Biar impas, kamu harus ijinkan aku nikah lagi. Kan aku dulu belum mendapatkan yang suci, jadi aku boleh dong mendapatkannya sekarang...itu dalih suaminya yang tak bisa ia lawan....
Teman saya hanya bisa pasrah. Memang kenyataannya ia tak bisa memberikan kesucian yang dituntut suaminya itu. Tapi apakah itu berarti menjadikan suaminya berhak dan terlegitimasi untuk memperlakukannya demikian...saya tak tahu...
beberapa bulan kemudian
Alhamdulillah Mbak, sidang pertama berjalan lancar, semoga sidang berikutnya juga lancar. Sebuah sms mampir ke hp saya.
Saya bersyukur ia sudah bisa mengambil keputusan yang tepat. Suaminya bersikeras tak mau cerai, tapi tak juga berubah sikap dan perilakunya. Teman saya memutuskan untuk mengakhiri perlakuan semena-mena yang sekian tahun telah menyakiti jiwa dan perasaannya. Saya tahu ia telah melewati proses yang panjang hingga keputusan itu ia ambil. Saya kagum dan salut akan keberaniannya.
Dalam hati saya berdoa, semoga Allah memberikan kebaikan yang banyak. Saya tahu, ia telah bertobat dari masa lalunya yang kelam...
"Bila seorang hamba mendatangi Allah dengan berjalan, maka Allah akan mendatanginya dengan berlari..."
Sabarlah, saudariku, doaku menyertaimu... semoga kebahagiaan sejati kan kau jelang...
Ya Allah... sayangi hamba dan saudariku ini... Amin
Langganan:
Komentar (Atom)